<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bligungtre.wordpress.com</title>
	<atom:link href="http://bligungtre.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bligungtre.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 07:47:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bligungtre.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bligungtre.wordpress.com</title>
		<link>http://bligungtre.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bligungtre.wordpress.com/osd.xml" title="Bligungtre.wordpress.com" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bligungtre.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Cropping Factor</title>
		<link>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/sedikit-tentang-cropping-factor/</link>
		<comments>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/sedikit-tentang-cropping-factor/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 13:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bligungtre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo | GeaR]]></category>
		<category><![CDATA[POTO | POTO]]></category>
		<category><![CDATA[Crop Factor]]></category>
		<category><![CDATA[D-SLR]]></category>
		<category><![CDATA[Sensor Digital]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bligungtre.wordpress.com/?p=501</guid>
		<description><![CDATA[. . Pernah baca bahwa kamera D-SLR entry level saat ini kebanyakan memiliki sensor yang lebih kecil dibandingkan kamera SLR? Pernah bingung soal istilah ‘full-frame equivalent’ saat membaca mengenai spesifikasi lensa yang diperuntukan bagi D-SLR entry? Hehehe.. saya juga pernah bingung.. Sejak masa awal dimulainya era kamera Digital SLR, salah satu aspek utama yang dikorbankan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=501&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-847" title="Kop_20" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_201.jpg?w=450&#038;h=225" alt="Kop_20" width="450" height="225" /></p>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p>Pernah baca bahwa kamera D-SLR <em>entry level</em> saat ini kebanyakan memiliki<em> </em>sensor yang lebih kecil dibandingkan kamera SLR? Pernah bingung soal istilah <em>‘full-frame equivalent’</em> saat membaca mengenai spesifikasi lensa yang diperuntukan bagi D-SLR <em>entry</em>? Hehehe.. saya juga pernah bingung..</p>
<p>Sejak masa awal dimulainya era kamera Digital SLR, salah satu aspek utama yang dikorbankan untuk membuat sebuah kamera D-SLR yang &#8216;murah&#8217; adalah ukuran sensor. Hal ini masuk akal karena biaya produksi unit sensor digital yang cukup mahal.  Kamera-kamera D-SLR kelas bawah hingga kelas menengah terpaksa mengalami ‘pemotongan’ ukuran sensor ini.</p>
<p>Pada jaman fotografi analog, standar ukuran sensor kamera SLR adalah 36 x 24mm. Saat ini, banyak kamera D-SLR hanya memiliki ukuran sensor kurang lebih 22 x 15mm. Bayangkan&#8230; terjadi pemotongan luas sensor hingga lebih dari 50%!!!</p>
<p>Oleh karena itu, kamera Digital SLR bisa digolongkan kepada dua kelompok besar berdasarkan ukuran sensornya, yaitu</p>
<ul>
<li>kamera DSLR <em>Full-frame</em> (bidang frame hijau pada gambar 1)<em> </em>; yaitu kamera D-SLR yang memiliki ukuran sensor digital sebesar yang dimiliki oleh kamera SLR (36x24mm tadi.. ). Biasanya kamera D-SLR kelas profesional yang harganya <em>busyet </em>mahal buanget!!!</li>
<li>kamera DSLR<em> cropped </em>(bidang frame biru pada gambar 1); tipe kamera D-SLR yang menjadi korban &#8216;pengurangan&#8217; anggaran ukuran sensor, jadi sensornya lebih kecil daripada ukuran sensor kamera SLR&#8230;</li>
</ul>
<p>Nah, padahal ukuran sensor ini berhubungan lekat dengan jarak fokal.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-505" title="Cropped sensor" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/cropped-sensor.jpg?w=450&#038;h=510" alt="Cropped sensor" width="450" height="510" /></p>
<p><strong><em><span id="more-501"></span></em></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><em>Gambar 1. </em></strong><em>Bagan sistem penangkapan bidang pandang oleh sensor dan perbandingan penangkapan sensor full-frame dan tangkapan sensor yang mengalami pemotongan ukuran.</em></p>
<p>Idealnya sensor <strong>menangkap hampir seluruh</strong> bidang pemandangan yang dilihat oleh lensa.</p>
<p>Lalu apa yang terjadi jika ukuran sensor diperkecil?? Tentu saja, sensor digital hanya <strong>menangkap sebagian di bagian tengah</strong> dari keseluruhan bidang pemandangan yang dilihat oleh lensa (lihat gambar 1). Oleh karena itu, tentu saja <em>ancer-ancer</em> jarak fokal pada hasil gambarnya ikut berubah.</p>
<h1 style="font-size:2em;text-align:left;"><span style="color:#333333;">Kenapa Jarak Fokal pada Hasil Gambarnya Berubah?</span></h1>
<p>Misalnya; saat menggunakan lensa <em>wide</em> dengan jarak fokal 28 mm; Idealnya seluruh bidang pandang yang dilihat lensa dapat ditangkap oleh sensor digital. Kita misalkan di dalam<em> scene</em> yang dibidik terdapat menara museum Fatahillah berada tepat di tengah view (lihat gambar 2), dan karena penggunaan lensa wide 28mm pada kamera dengan sensor <em>full-frame</em>, menara tersebut muncul sebagai bagian kecil dari keseluruhan <em>frame</em> gambar (Gb.2 bidang <em>frame</em> hijau).</p>
<p>Nah, jika sensor digitalnya diperkecil <em>(cropped)</em>, tentu saja sensor tersebut hanya menangkap sebagian dari pemandangan yang dilihat oleh lensa. Hal ini menyebabkan menara tersebut akan nampak lebih besar pada gambar hasil akhirnya (Gb.2 bidang <em>frame</em> merah, biru, dan coklat). Bidang pandang yang muncul pada gambar hasil akhirnya pun lebih sempit dari yang dilihat lensa.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-504" title="RZ Simulasi CF-01" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/rz-simulasi-cf-01.jpg?w=450&#038;h=316" alt="RZ Simulasi CF-01" width="450" height="316" /></p>
<p style="text-align:center;"><strong><em>Gambar 2</em></strong><em>. Perbandingan bidang tangkapan pada beberapa tipe ukuran sensor dengan lensa yang sama, yaitu lensa 28mm</em></p>
<p>Namun setelah ditilik, tentunya bidang pandang yang muncul pada gambar tersebut memiliki kemiripan dengan luas bidang pandang yang dimiliki oleh lensa dengan jarak fokal yang lebih <em>tele</em> (milimeter yang lebih besar) pada sensor <em>fullframe</em>.</p>
<p>Dalam hal ini (misalnya) ternyata setara dengan luas bidang pandang yang dimiliki lensa 42mm pada kamera <em>fullframe</em>. Nah, proses pembandingan luas bidang pandang inilah yang melahirkan istilah <em>cropping factor</em>. Karena sesungguhnya lensa yang digunakan adalah lensa 28 mm, namun dengan sensor digital yang ukurannya diperkecil, gambar hasil akhirnya memiliki bidang pandang yang serupa dengan lensa 42 mm pada sensor <em>fullframe</em>, maka kamera D-SLR ini disebut memiliki <em>cropping factor</em>, yaitu sebesar 1,5 kali. Nilai ini didapat dari 42mm dibagi 28mm, hasilnya 1,5&#8230;. Atau secara simpel disimpulkan : Sensor kamera D-SLR ini menangkap bidang pandang setara dengan bidang pandang lensa dengan <span style="text-decoration:underline;">jarak fokal 1,5 kali lebih besar</span> yang diambil dengan sensor <em>full-frame. </em>Langsung terjawab kan kebingungan mengenai istilah <em>full-frame equivalent</em>?</p>
<p>Belum terjawab? Ok, kita pakai contoh <em>real</em> saja.</p>
<h1 style="font-size:2em;text-align:left;"><span style="color:#333333;">Contoh Real!! <em>full-frame equivalent&#8230;</em></span></h1>
<p><strong>Lensa Canon EF-s <span style="text-decoration:underline;">10-22mm</span></strong> yang dipasang pada <strong>bodi dengan ukuran sensor APS-C Canon (<span style="text-decoration:underline;">Crop Factor 1,6</span>)</strong></p>
<p>akan menghasilkan gambar dengan bidang pandang yang serupa dengan yang dihasilkan oleh</p>
<p>lensa <strong>Canon EF <span style="text-decoration:underline;">16-35mm</span> L </strong>yang dipasang pada <strong>bodi dengan ukuran sensor<em> fullframe</em>. </strong></p>
<p>Kenapa? Karena <em>10mm x 1,6 = 16mm</em> dan <em>22mm x 1,6 = <span style="text-decoration:underline;">+</span>35mm.</em></p>
<p><em> </em>Jadi pada spesifikasi Lensa Canon EF-s 10-22mm pasti tercantum pernyataan bahwa <strong>‘lensa EF-s 10-22mm memiliki <em>fullframe equivalent</em> 16-35mm’</strong></p>
<p>Tadaaaa&#8230; demikianlah&#8230;. sudah jelas kan??? Apa? Belum juga??? Kalau belum, baca dari awal lagi aja&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>Sekedar mengingatkan, istilah full-frame equivalent hanya ada di lensa-lensa yang diperuntukan bagi kamera dengan sensor <em>cropped. </em>Lensa Canon 10-22mm ini adalah salah satunya. Bisa dilihat dari kode peruntukan <em>mount</em>-nya, yaitu EF-S. Semua lensa dengan kode EF-S ini diperuntukkan bagi bodi dengan sensor <em>cropped</em>. Tidak dapat dipakai di kamera-kamera <em>fullframe</em>.</p></blockquote>
<h1 style="font-size:2em;text-align:left;"><span style="color:#333333;">Tipe Kamera D-SLR dengan Crop Factor&#8230;</span></h1>
<p>Daftar berikut cuma sebagian tipe D-SLR yang masih banyak beredar aja ya&#8230;</p>
<ul>
<li>Seluruh kamera D-SLR Canon kelas Rebel (mulai dari EOS 300D, 350D, 400D, 450D, dan 500D) dan Elan (mulai dari EOS 10D, 20D, 30D, 40D, dan 50D) memiliki <em>cropping factor</em> sebesar 1,6x (ukuran sensornya disebut APS-C Canon).</li>
<li>Sementara Nikon varian D50, D70, D40, D60, D80, D90, D100, D200, hingga D300 memiliki <em>cropping factor</em> 1,5x (disebut APS-C Nikon atau Nikon DX format).</li>
<li>Produk-produk D-SLR entry dari Sony, Pentax, Konica Minolta Maxxum, Samsung juga memiliki nilai crop factor sekitar 1,5 dan 1,6 ini.</li>
<li>Sementara sistem <em>Four Third</em> pada D-SLR Olympus serta Panasonic Lumix L10 memiliki <em>cropping factor </em>2x.</li>
</ul>
<p>Hal ini menunjukkan bahwa di antara daftar di atas, ukuran sensor D-SLR setara APS-C dari Nikon memiliki ukuran sensor yang paling besar, sementara FourThird dari Olympus memiliki ukuran sensor yang paling kecil.</p>
<p>Jadi kalau kamera D-SLR teman-teman memiliki <em>cropping factor </em>dan memakai lensa 100mm, yang teman-teman akan dapatkan sesungguhnya adalah bidang pandang lensa 150mm (Nikon), 160mm (Canon), dan 200mm (Olympus) &#8230;</p>
<p>Jadi kalau misalnya teman-teman adalah pengguna Canon APS-C, dan menginginkan bidang pandang sejati lensa sekitar 100mm, carilah lensa dengan panjang fokal 60mm; karena panjang fokal 60mm dikali <em>cropping factor</em> Canon &#8211; 1,6, hasilnya adalah 96mm (mendekati 100mm lah setidaknya). Hitungan matematika sederhana bukan???</p>
<h2><span style="color:#333333;">Keuntungan Kamera dengan Crop Factor..</span></h2>
<p>Yee jangan dikira punya kamera dengan crop factor cuma ada ruginya aja dibanding punya kamera full-frame. Untuk beberapa aspek dan aplikasi tertentu, kamera dengan crop factor justru cenderung lebih unggul dibanding kamera full-frame.</p>
<ul>
<li>Untuk aplikasi pemotretan makro; dari segi magnifikasi, kamera dengan sensor cropped memiliki keunggulan karena dengan lensa yang sama, kita mendapatkan bidang pandang yang lebih &#8216;tele&#8217;, sehingga dengan jarak obyek-kamera yang lebih jauh, kita mendapatkan perbesaran yang sama dengan bidang pandang kamera fullframe dengan jarak obyek-kamera yang lebih dekat. Magnifikasi obyek pada hasil gambar yang didapatkan pun begitu, kamera dengan crop factor yang beresolusi 12 megapixel akan menghasilkan magnifikasi lebih besar daripada kamera fullframe dengan resolusi 12 megapixel;</li>
<li>Kamera dengan crop factor hanya &#8216;melihat&#8217; sebagian di tengah pada keseluruhan bidang pandang yang dilihat lensa. Oleh karena itu, jika menggunakan lensa yang diperuntukkan bagi kamera full-frame (yang artinya sebagian besar lensa profesional), kamera dengan crop factor relatif lebih aman dari munculnya gejala vignetting dan degradasi kualitas gambar pada bagian ujung frame (corner sharpness);</li>
<li>Kamera dengan crop factor biasanya lebih compact dan ringan. Hal ini tentu terjadi karena dengan lebih kecilnya ukuran sensor, ukuran cermin dan penta-prism juga dapat diperkecil.</li>
</ul>
<h1 style="font-size:2em;text-align:left;"><span style="color:#333333;">Cropping Factor pada Kamera Digital Compact/Prosumer</span></h1>
<p>Pernah ndak kaget saat membaca tulisan jarak fokal di depan kamera <em>digital compact</em>/prosumer? Saya sendiri dulu pernah kaget sebelum mengenal istilah <em>crop factor</em> ini&#8230; di ujung depan lensa kamera prosumer Canon Powershot SX100IS saya tertulis jarak fokal 6.0-60.0mm! Waw, kalau lensanya beneran mampu mencapi 6 mm pasti wide sekali ya!! Sudut pandang diagonalnya bisa lebih dari 135 derajat tuh!</p>
<p>Tapi kenyataannya kok ndak se-wide itu ya? Pada posisi lensa paling ‘wide’ pun (yaitu yang katanya 6 mm itu) bahkan bidang pandang sensornya tidak lebih wide daripada posisi 18mm di lensa kit 18-55 D-SLR saya?? Hmm&#8230;</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-520" title="Canon Powershot SX100IS crop" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/canon-powershot-sx100is-crop.jpg?w=450&#038;h=334" alt="Canon Powershot SX100IS crop" width="450" height="334" /></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>Gambar 3.</strong> Tulisan jarak fokal di depan lensa Powershot SX100IS&#8230; 6,0-60,0mm????</em></p>
<p>Jawabannya ternyata memang <em>crop factor</em> ini&#8230;</p>
<p>Seperti yang tercantum pada daftar <em>crop factor</em> di bawah ini, Powershot SX100IS memiliki ukuran sensor 1/2,5”, yang berarti memiliki nilai <em>crop factor</em> sebesar kurang lebih 6x. Itu artinya sebetulnya kamera tersebut memiliki <em>full-frame equivalent</em> atau jarak fokal sejati sekitar 36-360mm. Hmmm&#8230; Baru segalanya terasa masuk akal&#8230;</p>
<p>nah, coba sekarang lihat jarak fokal yang tertulis di kamera digital <em>compact</em> milik teman-teman, lalu cocokkan <em>crop factor</em>nya dengan daftar di bawah ini&#8230; Ukuran sensor dapat dilihat pada bab &gt;spesifikasi produk&lt; di buku manual masing-masing kamera&#8230;</p>
<p><strong>DAFTAR NILAI CROP FACTOR TIAP TIPE UKURAN SENSOR PADA KAMERA<em> COMPACT</em>/PROSUMER</strong></p>
<blockquote><p>Daftar ini disarikan dari wikipedia dan hanya ukuran sensor yang populer ada saat ini yang saya cantumkan. Untuk daftar lengkap dari wikipedia, baca <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Image_sensor_format">di sini</a>.</p></blockquote>
<ul>
<li><strong>Ukuran sensor 1/2,7&#8243; </strong>memiliki nilai <em>Crop Factor</em> sebesar <strong>6,44x</strong></li>
<li><strong><strong>Ukuran sensor 1/2,5&#8243; </strong><span style="font-weight:normal;">memiliki nilai </span><em><span style="font-weight:normal;">Crop Factor</span></em><span style="font-weight:normal;"> sebesar</span> <strong>6,02x</strong></strong></li>
<li><span style="font-weight:800;"><strong>Ukuran sensor 1/1,8&#8243; </strong><span style="font-weight:normal;">memiliki nilai </span><em><span style="font-weight:normal;">Crop Factor</span></em><span style="font-weight:normal;"> sebesar</span> <strong>4,84x</strong></span></li>
<li><span style="font-weight:900;"><strong>Ukuran sensor 1/1,17&#8243; </strong><span style="font-weight:normal;">memiliki nilai </span><em><span style="font-weight:normal;">Crop Factor</span></em><span style="font-weight:normal;"> sebesar</span> <strong>4,55x</strong></span></li>
</ul>
<p>.</p>
<p>All text and images © Putra Munchana 2009</p>
<p><a rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/"><img src="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" alt="Creative Commons License" /></a><br />
All Images &amp; Words @ bligungtre.wordpress.com by<a rel="cc:attributionURL" href="http://bligungtre.wordpress.com/bligungtre.wordpress.com">Putra Munchana Anak Agung</a> is licensed under a <a rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/">Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bligungtre.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bligungtre.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bligungtre.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bligungtre.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bligungtre.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bligungtre.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bligungtre.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bligungtre.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bligungtre.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bligungtre.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bligungtre.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bligungtre.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bligungtre.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bligungtre.wordpress.com/501/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=501&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/sedikit-tentang-cropping-factor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/71cb7004d0540debb275d86f6db3f596?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">bligungtre</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_201.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kop_20</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/cropped-sensor.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cropped sensor</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/rz-simulasi-cf-01.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">RZ Simulasi CF-01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/canon-powershot-sx100is-crop.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Canon Powershot SX100IS crop</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" medium="image">
			<media:title type="html">Creative Commons License</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Saya Memakai RAW?</title>
		<link>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/format-raw-vs-jpeg/</link>
		<comments>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/format-raw-vs-jpeg/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 05:04:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bligungtre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo | GeaR]]></category>
		<category><![CDATA[POTO | POTO]]></category>
		<category><![CDATA[12d|pipeline RAW]]></category>
		<category><![CDATA[format RAW]]></category>
		<category><![CDATA[kamera compact]]></category>
		<category><![CDATA[kamera D-SLR]]></category>
		<category><![CDATA[RAW vs JPEG]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bligungtre.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ‘tukang poto’ yang terbantu oleh kemampuan kameranya menyimpan data gambar dalam format RAW. Apa keunggulan RAW dibanding format lainnya seperti JPEG atau TIFF?<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=222&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:right;"><span style="font-size:small;"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-839" title="Kop_12" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_121.jpg?w=450&#038;h=225" alt="Kop_12" width="450" height="225" /><br />
</strong></span></div>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-satu/"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page1.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Apa sih format Raw/Tiff/Jpeg itu?</span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"> |</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-dua/"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page2.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Saya akan menggunakan Raw/Tiff/Jpeg jika&#8230; </span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;">|</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/codec-untuk-membuka-file-raw-di-windows-explorer/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page3.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Codec untuk membuka file RAW di Windows Explorer</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page4.</span><span style="color:#ffcc99;"> Mengapa saya pribadi memilih memakai RAW? |</span></li>
</h5>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p>Banyak fotografer yang terbantu oleh kemampuan kameranya menyimpan data gambar dalam format RAW. Apa keunggulan memotret dengan output kamera RAW dibanding format lainnya seperti JPEG atau TIFF?</p>
<h1 style="text-align:left;"><span style="color:#333333;">Apa itu RAW?</span></h1>
<p>Sebelumnya, kita lihat dulu bagaimana perjalanan data di dalam kamera digital dari photon cahaya menjadi data digital di dalam kartu memori kita.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-267" title="PROSES DATA-01 JPEG" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/07/proses-data-015.jpg?w=450&#038;h=279" alt="PROSES DATA-01 JPEG" width="450" height="279" /><span style="color:#888888;"><strong><em>Diagram Pipeline kerja dengan JPEG/TIFF sebagai output kamera</em></strong></span></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p><span id="more-222"></span></p>
<p>Bisa dilihat kalau format RAW adalah format gambar digital yang merupakan hasil tangkapan langsung dari sensor kamera digital. Sementara data JPEG dan TIFF merupakan hasil olahan oleh prosesor komputer di dalam kamera menjadi format yang lebih kompak.</p>
<p>Berbeda dengan JPEG dan TIFF yang memiliki extensi file dengan nama yang sama (*.jpeg dan *.tiff), RAW memiliki extensi file dengan nama yang berbeda-beda sesuai dengan produsen kamera digital itu sendiri (*.cr2 untuk canon, *.nef untuk nikon, dll). Sebetulnya sudah ada file universal untuk format RAW ini, yaitu *.dng&#8230; namun jarang sekali produsen kamera digital yang menggunakan format ini sebagai format penyimpanan datanya.</p>
<p>Baca mengenai RAW lebih lanjut mulai kelebihan-kekurangan hingga bagaimana format menyimpan datanya di<a href="RAW – JPEG – TIFF … bagian satu"><span style="color:#993300;"> &#8220;Apa sih Raw/Tiff/Jpeg itu?&#8221;</span></a></p>
<h1 style="font-size:2em;text-align:left;"><span style="color:#333333;">Mengapa memilih RAW?</span></h1>
<p><strong>Data RAW masih menyimpan data mentah tangkapan dari sensor</strong><strong> digital</strong><strong>.</strong> Oleh karena sensor digital pada kamera digital biasanya menangkap eksposur dalam 3 warna dasar digital yaitu Merah, Hijau, Biru (Red-Green-Blue atau RGB);<strong> kasarnya,</strong> <strong>setiap pixel </strong><strong>pada</strong><strong> sebuah gambar RAW menyimpan </strong><strong>(biasanya) 3-4</strong><strong> data warna sekaligus. </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Namun karena banyaknya data yang disimpan di dalam tiap pixel, <strong>data RAW jauh lebih besar ukurannya daripada format JPEG</strong>.</p>
<p>Untuk sekedar ilustrasi, sebuah data gambar dengan resolusi 12,1 megapixel dalam format JPEG memiliki ukuran 4 hingga 5MB, sementara dalam format RAW bisa berukuran 17 hingga 20MB.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-268" title="PROSES DATA-02RAW" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/07/proses-data-023.jpg?w=450&#038;h=280" alt="PROSES DATA-02RAW" width="450" height="280" /><span style="color:#888888;"><strong><em>Diagram Pipeline kerja dengan RAW sebagai output kamera</em></strong></span></p>
<h1 style="font-size:2em;text-align:left;"><span style="color:#333333;">Pipeline kerja dengan format RAW</span></h1>
<p>Lalu apa yang menyebabkan format RAW begitu berguna? Jika menilik dari bagan di atas, <strong>dengan menyimpan data gambar dalam bentuk </strong><strong>RAW, artinya kita tidak mempercayakan begitu saja proses optimasi/kompresi gambar kepada prosesor di dalam kamera.</strong> Sebaliknya, nanti kitalah akan melakukan kompresi tersebut secara manual di komputer <em>desktop</em>. Cara kerja ini terasa lebih nyaman bagi saya karena saya bisa mengkustomisasi proses kompresi gambar ini sesuai dengan keinginan saya (bukan melalui automasi kompresi prosesor kamera digital saya yang mungkin saja tidak sesuai dengan bagaimana gambar tersebut saya inginkan). Saya dapat mengatur bagaimana proses <em>sharpenin</em>g sendiri, mengatur saturasi dan eksposurnya sendiri, dan banyak parameter lainnya.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong> </strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Selain itu,<em> Pipeline</em> kerja dengan RAW ini sangat menguntungkan dalam sudut pandang kualitas gambar. Dalam mengkompresi data RAW ke dalam format JPEG/TIFF, terdapat proses-proses seperti <em>demosaicing</em>, <em>white balancing</em>, serta pengaturan <em>tone</em>, kontras, <em>sharpening</em>, saturasi, dll. Nah, proses-proses ini, terutama <em>demosaicing</em> adalah sebuah proses yang membutuhkan kinerja prosesor yang sangat berat untuk hasil yang lebih maksimal. Oleh karena itu, tentu saja <strong>melakukan proses <em>demosaicing</em> ini di komputer desktop akan menghasilkan kualitas gambar yang lebih baik dibanding melakukannya dengan prosesor di dalam kamera</strong>, mengingat saat ini prosesor komputer desktop memiliki kemampuan <em>processing</em> yang jauh lebih kuat dibanding prosesor di dalam kamera digital.</p>
<p>Prosesor di dalam kamera cenderung di-set untuk melakukan proses <em>demosaicing</em> yang lebih cepat. Hal ini dilakukan guna menghemat waktu <em>processing</em> agar kamera dapat segera siap untuk mengambil gambar selanjutnya. Kompensasinya, tentu saja gambar hasil akhir yang relatif lebih buram dan kurang detail.</p>
<p>Kalau mau tau lebih banyak tentang proses <em>demosaicing</em> ini, baca di artikel “Sensor Kamera Digital : Jaring Penangkap Cahaya”</p>
<h1 style="font-size:2em;text-align:left;"><span style="color:#333333;">Pro dan Kons format RAW&#8230;</span></h1>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kelebihan</strong> format data RAW :</p>
<ol>
<li>Masih menyimpan ‘data mentah’ (bayangkan film negatif pada fotografi non-digital) sehingga sangat membantu pada proses <em>post-processing</em> untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Masih menyimpan detail, <em>dynamic range</em>, dan warna tangkapan langsung dari sensor digital yang belum mengalami kompresi sehingga belum ada data yang hilang.</li>
</ol>
<p>Sementara <strong>kelemahan</strong> format data RAW :</p>
<ol>
<li>Ukuran file yang cukup besar menyebabkan berkurangnya jumlah gambar yang dapat disimpan di dalam sebuah kartu memori serta menyebabkan proses penyimpanan data gambar ke dalam kartu memori relatif lebih lama;</li>
<li>Memerlukan konversi terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai data gambar yang dapat dipublikasikan dan dibagi-bagikan karena ekstensi file untuk tiap produsen kamera biasanya berbeda-beda;</li>
</ol>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-satu/"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page1.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Apa sih format Raw/Tiff/Jpeg itu?</span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"> |</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-dua/"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page2.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Saya akan menggunakan Raw/Tiff/Jpeg jika&#8230; </span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;">|</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/codec-untuk-membuka-file-raw-di-windows-explorer/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page3.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Codec untuk membuka file RAW di Windows Explorer</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page4.</span><span style="color:#ffcc99;"> Mengapa saya pribadi memilih memakai RAW? |</span></li>
</h5>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p style="text-align:left;">All text and images © Putra Munchana 2009</p>
<p style="text-align:left;"><a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/"><img style="border:0 initial initial;" src="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" alt="Creative Commons License" /></a><br />
All Images &amp; Words @ bligungtre.wordpress.com by<a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="cc:attributionURL" href="http://bligungtre.wordpress.com/bligungtre.wordpress.com">Putra Munchana Anak Agung</a> is licensed under a <a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/">Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bligungtre.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bligungtre.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bligungtre.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bligungtre.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bligungtre.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bligungtre.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bligungtre.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bligungtre.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bligungtre.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bligungtre.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bligungtre.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bligungtre.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bligungtre.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bligungtre.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=222&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/format-raw-vs-jpeg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/71cb7004d0540debb275d86f6db3f596?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">bligungtre</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_121.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kop_12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/07/proses-data-015.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PROSES DATA-01 JPEG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/07/proses-data-023.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PROSES DATA-02RAW</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" medium="image">
			<media:title type="html">Creative Commons License</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Codec RAW untuk Windows</title>
		<link>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/codec-untuk-membuka-file-raw-di-windows-explorer/</link>
		<comments>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/codec-untuk-membuka-file-raw-di-windows-explorer/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 05:03:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bligungtre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo | GeaR]]></category>
		<category><![CDATA[POTO | POTO]]></category>
		<category><![CDATA[12c|codec]]></category>
		<category><![CDATA[CODEC RAW]]></category>
		<category><![CDATA[Download CODEC]]></category>
		<category><![CDATA[Download RAW viewer]]></category>
		<category><![CDATA[Membuka file CR2]]></category>
		<category><![CDATA[Membuka file NEF]]></category>
		<category><![CDATA[Membuka file ORF]]></category>
		<category><![CDATA[Membuka file RAW di komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Picasa 3]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bligungtre.wordpress.com/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[Codec ini dapat digunakan untuk melihat file RAW di windows explorer, tanpa bantuan software khusus. Jadi dengan &#8216;manginstall&#8217; codec ini di komputer, komputer kita dapat mengenali file RAW kita dan bisa membuka dan membuat thumbnail layaknya dengan file JPEG. Saya sendiri baru mencoba yang untuk yang Canon. Dengan CODEC ini, file CR2 Canon dapat saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=492&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">Codec ini dapat digunakan untuk melihat file RAW di windows explorer, tanpa bantuan software khusus. Jadi dengan &#8216;manginstall&#8217; codec ini di komputer, komputer kita dapat mengenali file RAW kita dan bisa membuka dan membuat thumbnail layaknya dengan file JPEG.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">Saya sendiri baru mencoba yang untuk yang Canon. Dengan CODEC ini, file CR2 Canon dapat saya buka di windows explorer layaknya JPEG, namun memang untuk membuat thumbnail dan membuka file RAW pada Windows Vista, komputer saya membutuhkan waktu sedikit lebih lama dibandingkan menangani file JPEG.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">Codec untuk membuka file RAW Canon (*.CR2) dapat di download di link berikut ini</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">http://www.free-codecs.com/Canon_RAW_Codec_download.htm</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">ukuran file sekitar 67MB</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">Codec untuk membuka file RAW Nikon (*.NEF) dapat di download di link berikut ini</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">http://www.free-codecs.com/download/Nikon_RAW_Codec.htm</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">ukuran file sekitar 28 MB</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">Codec untuk membuka file RAW Olympus (*.ORF) dapat di download di link berikut ini</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">http://www.free-codecs.com/OLYMPUS_RAW_Codec_download.htm</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">ukuran file sekitar 5,1 MB untuk Windows Vista 32Bit</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">dan sekitar 10MB untuk Windows Vista 64 Bit</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">Saya sendiri tidak menggunakan Codec ini, namun saya menginstall Image Viewer Picasa 3 yang dapat membuka file CR2 dan NEF (ORF juga mungkin? Saya belum mencobanya)</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">Software Picasa 3 ini dapat didownload gratis di http://picasa.google.com/</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">Sepanjang pengalaman saya, Picasa 3 ini adlah software image viewer (dan manager) yang paling nyaman digunakan.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">Demikian.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;width:1px;height:1px;top:0;left:-10000px;">Semoga berguna.</div>
<div style="text-align:right;"><img class="aligncenter size-full wp-image-839" title="Kop_12" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_121.jpg?w=450&#038;h=225" alt="Kop_12" width="450" height="225" /></div>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-satu/"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page1.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Apa sih format Raw/Tiff/Jpeg itu?</span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"> |</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-dua/"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page2.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Saya akan menggunakan Raw/Tiff/Jpeg jika&#8230; </span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;">|</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page3.</span><span style="color:#ffcc99;"> Codec untuk membuka file RAW di Windows Explorer |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/format-raw-vs-jpeg/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page4.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Mengapa saya pribadi memilih memakai RAW?</span> |</span></li>
</h5>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p>File RAW seperti *.cr2, *.nef, *.orf, dan lain sebagainya adalah file data cahaya mentah hasil tangkapan sensor digital. Dalam workflownya untuk membuka file RAW digunakan program khusus seperti <strong>DPP- Digital Photo Profesional</strong> (bawaan kamera Canon), <strong>Capture NX</strong> (bawaan kamera Nikon tertentu), <strong>Silkypix </strong>(Panasonic), <strong>Adobe Camera RAW</strong> (plugin untuk Photoshop), <strong>Adobe Lightroom, </strong>atau<strong> </strong>program-program fotografi lainnya. Program-program ini pada umumnya dapat digunakan untuk mengorganisasi, memproses/mengkoreksi, serta mengkonversi file RAW menjadi format yang lebih umum seperti DNG, TIFF, atau JPEG sesuai kebutuhan.</p>
<p>Sistem operasi Windows XP (dan beberapa lainnya juga) yang ada saat ini pada umumnya tidak dapat mengenali format-format RAW secara default. Untuk &#8216;memperkenalkan&#8217; format file RAW ini kepada sistem operasi pada komputer dibutuhkan software khusus seperti yang telah saya sebutkan di atas ATAU dengan menggunakan Codec.</p>
<p>CODEC ini dapat digunakan untuk melihat file RAW di windows explorer, tanpa bantuan <em>software</em> khusus. Jadi dengan &#8216;manginstall&#8217; CODEC ini di komputer, komputer kita dapat mengenali file RAW kita dan bisa membuka dan membuat thumbnail layaknya dengan file JPEG.</p>
<p><span id="more-492"></span></p>
<p>Saya sendiri baru mencoba yang untuk yang Canon. Dengan CODEC ini, file CR2 Canon dapat saya buka di windows explorer layaknya JPEG, namun memang untuk membuat thumbnail dan membuka file RAW, komputer saya membutuhkan waktu sedikit lebih lama dibandingkan menangani file JPEG.</p>
<p><strong>Codec untuk membuka file RAW Canon (*.CR2)</strong> dapat di download di link berikut ini</p>
<blockquote><p><span style="color:#993300;"><a href="http://www.ziddu.com/download/10796809/rc170upd_7l.exe.html"><span style="color:#993300;">Canon</span> CODEC Raw CR2</a> download</span></p>
<p>ukuran file sekitar 67MB</p></blockquote>
<p><strong>Codec untuk membuka file RAW Nikon (*.NEF)</strong> dapat di download di link berikut ini</p>
<blockquote><p><span style="color:#993300;"><a href="http://www.free-codecs.com/download/Nikon_RAW_Codec.htm"><span style="color:#993300;">http://www.free-codecs.com/download/Nikon_RAW_Codec.htm</span></a></span></p>
<p>ukuran file sekitar 28 MB</p></blockquote>
<p><strong>Codec untuk membuka file RAW Olympus (*.ORF)</strong> dapat di download di link berikut ini</p>
<blockquote><p><span style="color:#993300;"><a href="http://www.ziddu.com/download/10797185/RawCodec_x86_ENU_olymp.msi.html"><span style="color:#993300;">Olympus</span> Codec Raw ORF Windows 32bit</a></span></p>
<p>ukuran file sekitar 5,1 MB untuk Windows 32Bit</p>
<p><a href="http://www.ziddu.com/download/10797186/RawCodec_x64_ENU.msi.html">Olympus Codec Raw XP Windows 64bit</a></p>
<p>dan sekitar 10MB untuk Windows 64 Bit</p></blockquote>
<p>Saya sendiri tidak menggunakan Codec ini, namun saya menginstall Image Viewer Picasa 3 yang dapat membuka file CR2 dan NEF (ORF juga mungkin? Saya belum mencobanya)</p>
<p><strong>Software Picasa 3 </strong>ini dapat didownload gratis di <span style="color:#993300;"><span style="color:#993300;">sini.</span></span></p>
<p>Sepanjang pengalaman saya, Picasa 3 ini adlah software image viewer (dan manager) yang paling nyaman digunakan.</p>
<p>Demikian.</p>
<p>Semoga berguna.</p>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#000000;font-size:13px;">
<div><span style="font-size:small;"><span style="font-size:13px;"></span></span> </p>
</div>
<p style="text-align:left;">All text and images © Putra Munchana 2009</p>
<p style="text-align:left;"><a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/"><img style="border:0 initial initial;" src="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" alt="Creative Commons License" /></a><br />
All Images &amp; Words @ bligungtre.wordpress.com by<a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="cc:attributionURL" href="http://bligungtre.wordpress.com/bligungtre.wordpress.com">Putra Munchana Anak Agung</a> is licensed under a <a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/">Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License</a>.</p>
<p> </p>
<p></span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-satu/"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page1.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Apa sih format Raw/Tiff/Jpeg itu?</span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"> |</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-dua/"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page2.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Saya akan menggunakan Raw/Tiff/Jpeg jika&#8230; </span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;">|</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page3.</span><span style="color:#ffcc99;"> Codec untuk membuka file RAW di Windows Explorer |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/format-raw-vs-jpeg/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page4.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Mengapa saya pribadi memilih memakai RAW?</span> |</span></li>
</h5>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bligungtre.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bligungtre.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bligungtre.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bligungtre.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bligungtre.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bligungtre.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bligungtre.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bligungtre.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bligungtre.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bligungtre.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bligungtre.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bligungtre.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bligungtre.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bligungtre.wordpress.com/492/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=492&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/codec-untuk-membuka-file-raw-di-windows-explorer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/71cb7004d0540debb275d86f6db3f596?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">bligungtre</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_121.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kop_12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" medium="image">
			<media:title type="html">Creative Commons License</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saya Akan Menggunakan Raw/Jpeg/Tiff Jika&#8230;</title>
		<link>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-dua/</link>
		<comments>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-dua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 05:02:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bligungtre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo | GeaR]]></category>
		<category><![CDATA[POTO | POTO]]></category>
		<category><![CDATA[12b|output]]></category>
		<category><![CDATA[format output kamera]]></category>
		<category><![CDATA[JPEG]]></category>
		<category><![CDATA[RAW]]></category>
		<category><![CDATA[TIFF]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bligungtre.wordpress.com/?p=475</guid>
		<description><![CDATA[Masing-masing format memiliki kekurangan dan keunggulannya masing-masing. Lalu, format mana yang sebaiknya dipakai sebagai output kamera digital kita? Sharing saya berikut ini akan menggunakan kerangka berpikir "Saya akan menggunakan format RAW/JPEG/TIFF jika..."<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=475&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:right;"><span style="font-size:small;"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-839" title="Kop_12" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_121.jpg?w=450&#038;h=225" alt="Kop_12" width="450" height="225" /><br />
</strong></span></div>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-satu/"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page1.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Apa sih format Raw/Tiff/Jpeg itu?</span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"> |</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page2. Saya akan menggunakan Raw/Tiff/Jpeg jika&#8230; |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/codec-untuk-membuka-file-raw-di-windows-explorer/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page3.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Codec untuk membuka file RAW di Windows Explorer</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/format-raw-vs-jpeg/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page4.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Mengapa saya pribadi memilih memakai RAW?</span> |</span></li>
</h5>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p>Masing-masing format memiliki <a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-satu/"><span style="color:#993300;">kekurangan dan keunggulannya masing-masing</span></a>. Lalu, format mana yang sebaiknya dipakai sebagai <em>output</em> kamera digital kita? <em>Sharing</em> saya berikut ini akan menggunakan kerangka berpikir &#8220;Saya akan menggunakan format RAW/JPEG/TIFF jika&#8230;&#8221;</p>
<p><span id="more-475"></span></p>
<h1 style="font-family:Garamond, serif;font-weight:bold;font-size:2em;text-align:left;text-transform:uppercase;letter-spacing:12px;text-decoration:none;color:#fd5a1e;padding-top:40px;margin:0;"><span style="color:#333333;">SAYA AKAN MENGGUNAKAN RAW JIKA&#8230;</span></h1>
<ul>
<li>Saya rela mengorbankan jumlah gambar yang bisa saya simpan dalam sebuah <em>memory card</em>, dan waktu penulisan data ke dalam <em>memory card</em>,  demi menyimpan seluruh data yang ditangkap oleh sensor digital kamera saya;</li>
<li>Misi pemotretan saya adalah menghasilkan sebuah foto yang sempurna (seoptimal mungkin yang bisa saya capai), sebanyak apapun waktu dan usaha yang harus saya bayar untuk itu;</li>
<li>Saya ingin memaksimalkan kemampuan <em>gear</em> saya untuk menghasilkan gambar yang sebaik mungkin sesuai kemampuan saya;</li>
<li>Saya adalah &#8216;<em>purist</em>&#8216; yang tidak akan membiarkan prosesor kamera memproses gambar untuk saya, semua <em>step</em> dalam <em>processing</em> gambar saya harus dengan &#8216;cara saya&#8217;;</li>
<li>Saya ingin memasukkan ciri khas kreatif saya (yang berhubungan dengan <em>post-processing </em>gambar) dalam setiap karya fotografi saya.</li>
</ul>
<h1 style="font-size:2em;font-family:Garamond, serif;font-weight:bold;text-align:left;text-transform:uppercase;letter-spacing:12px;text-decoration:none;color:#fd5a1e;padding-top:40px;margin:0;"><span style="color:#333333;">SAYA AKAN MENGGUNAKAN TIFF JIKA&#8230;</span></h1>
<ul>
<li>Saya membutuhkan format gambar yang dapat langsung digunakan dalam sebagian besar <em>software imaging</em> dan untuk kepentingan <em>printing, </em>namun saya menginginkan kualitas gambar yang benar-benar prima;</li>
<li>Saya berencana mengedit gambar tersebut via <em>software</em>, tapi bukan <em>editing</em> berat;</li>
<li>Saya ingin &#8216;setengah&#8217; kepraktisan, yaitu membiarkan prosesor memproses parameter <em>sharpening</em>, saturasi, <em>white balance</em>, dll untuk saya, namun memberikan saya sedikit ruang untuk mengkoreksinya lewat <em>software</em> nantinya apabila ada <em>setting</em> yang kurang berkenan;</li>
</ul>
<h1 style="font-size:2em;font-family:Garamond, serif;font-weight:bold;text-align:left;text-transform:uppercase;letter-spacing:12px;text-decoration:none;color:#fd5a1e;padding-top:40px;margin:0;"><span style="color:#333333;">SAYA AKAN MENGGUNAKAN JPEG JIKA&#8230;</span></h1>
<ul>
<li>Saya membutuhkan kepraktisan tinggi, saya harus segera memotret, lalu langsung men-<em>share</em> foto saya (misalnya) di internet. Hal ini dimungkinkan dengan format JPEG karena semua <em>software</em> grafis men-support format JPEG sehingga tidak diharuskan adanya konversi format.  Orang yang hendak menerima <em>file</em> JPEG saya dapat langsung membukanya tanpa memerlukan tambahan <em>software</em> khusus;</li>
<li>Saya menginginkan portabiliti, yaitu ukuran <em>file</em> yang kecil, agar <em>memory card</em> saya dapat menampung lebih banyak data gambar;</li>
<li>Perhatian utama saya bukan pada ketajaman dan kualitas gambar, melainkan momen yang ingin saya tangkap dalam gambar;</li>
<li>Saya tidak berencana mengedit/ melakukan <em>tweaking</em> pada <em>software</em><br />
<em>imaging</em> lebih dari sekali pada sebuah data gambar.</li>
</ul>
<p><strong>JADI, FORMAT APA YANG AKAN TEMAN-TEMAN GUNAKAN&#8230;?</strong></p>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-satu/"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page1.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Apa sih format Raw/Tiff/Jpeg itu?</span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"> |</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page2. Saya akan menggunakan Raw/Tiff/Jpeg jika&#8230; |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/codec-untuk-membuka-file-raw-di-windows-explorer/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page3.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Codec untuk membuka file RAW di Windows Explorer</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/format-raw-vs-jpeg/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page4.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Mengapa saya pribadi memilih memakai RAW?</span> |</span></li>
</h5>
<p><span style="font-size:small;"> </span></p>
<p><span style="font-size:small;"> </span></p>
<p style="text-align:left;">All text and images © Putra Munchana 2009</p>
<p style="text-align:left;"><a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/"><img style="border:0 initial initial;" src="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" alt="Creative Commons License" /></a><br />
All Images &amp; Words @ bligungtre.wordpress.com by<a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="cc:attributionURL" href="http://bligungtre.wordpress.com/bligungtre.wordpress.com">Putra Munchana Anak Agung</a> is licensed under a <a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/">Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bligungtre.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bligungtre.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bligungtre.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bligungtre.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bligungtre.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bligungtre.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bligungtre.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bligungtre.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bligungtre.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bligungtre.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bligungtre.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bligungtre.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bligungtre.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bligungtre.wordpress.com/475/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=475&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-dua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/71cb7004d0540debb275d86f6db3f596?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">bligungtre</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_121.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kop_12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" medium="image">
			<media:title type="html">Creative Commons License</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa sih Format Raw/Jpeg/Tiff Itu?</title>
		<link>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-satu/</link>
		<comments>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-satu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 05:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bligungtre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo | GeaR]]></category>
		<category><![CDATA[POTO | POTO]]></category>
		<category><![CDATA[12a|output]]></category>
		<category><![CDATA[format data gambar]]></category>
		<category><![CDATA[JPEG]]></category>
		<category><![CDATA[RAW]]></category>
		<category><![CDATA[TIFF]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bligungtre.wordpress.com/?p=470</guid>
		<description><![CDATA[Pada umumnya kamera digital dapat menyimpan data gambar digital dalam 3 format, Yaitu :

JPEG (Joint Photography Expert Graphic) – bisa dibilang semua kamera digital dapat menyimpan data gambar dalam format digital ini;

TIFF atau TIF (Tagged Image File Format) – beberapa tipe kamera prosumer serta D-SLR versi lama menyimpan data gambar dalam format ini; dan

RAW – dengan format yang berbeda untuk tiap produsen kamera (CRW dan CR2 untuk Canon; NEF untuk Nikon, dll), format RAW ini dapat disimpan oleh semua D-SLR dan beberapa tipe kamera compact kelas atas yang umum beredar di pasaran saat ini.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=470&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:right;"><span style="font-size:small;"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-839" title="Kop_12" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_121.jpg?w=450&#038;h=225" alt="Kop_12" width="450" height="225" /><br />
</strong></span></div>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page1. Apa sih format Raw/Tiff/Jpeg itu? |</span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-dua/"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page2.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Saya akan menggunakan Raw/Tiff/Jpeg jika&#8230; </span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"> |</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/codec-untuk-membuka-file-raw-di-windows-explorer/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page3.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Codec untuk membuka file RAW di Windows Explorer</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/format-raw-vs-jpeg/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page4.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Mengapa saya pribadi memilih memakai RAW?</span> |</span></li>
</h5>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p>Pada umumnya kamera digital dapat menyimpan data gambar digital dalam 3 format, Yaitu :</p>
<p>JPEG (<em>Joint Photographic Expert Group</em>) – bisa dibilang semua kamera digital dapat menyimpan data gambar dalam format digital ini;</p>
<p>TIFF atau TIF (<em>Tagged Image File Format</em>) – beberapa tipe kamera prosumer serta D-SLR versi lama menyimpan data gambar dalam format ini; dan</p>
<p>RAW – dengan format yang berbeda untuk tiap produsen kamera (CRW dan CR2 untuk Canon; NEF untuk Nikon, dll), format RAW ini dapat disimpan oleh semua D-SLR dan beberapa tipe kamera <em>compact</em> kelas atas yang umum beredar di pasaran saat ini.</p>
<p><span id="more-470"></span></p>
<h1 style="font-size:2em;text-align:left;"><span style="color:#333333;">Apa sih format RAW itu?</span></h1>
<p>Format RAW adalah format &#8216;murni&#8217; hasil tangkapan dari sensor digital yang sama sekali belum disentuh oleh kompresi atau pun interpolasi apapun! Jadi datanya pun &#8216;<em>fresh from the oven</em>&#8216;, belum ada data yang hilang karena kompresi, belum ada keputusan <em>processing</em> apapun yang diambil. Apa yang dilihat/ditangkap oleh sensor digital, itulah yang ada di data RAWnya.</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Data apa sih yang ada dalam sebuah file RAW?</span><br />
</em></p>
<p>Apa yang ada di dalam sebuah <em>file</em> RAW sangat bervariasi, tergantung produsen kamera digital yang mengambil gambar RAW tersebut. Tiap produsen kamera digital memiliki teknologi dan fitur-fitur canggihnya masing-masing dalam produk sensor digitalnya dan memasukkan teknologi tesebut dengan cara yang bervariasi ke dalam format RAWnya, sehingga tiap produsen kamera memiliki format RAWnya masing-masing.</p>
<p>Namun, pada dasarnya, format RAW yang dihasilkan kamera digital dewasa ini berupa data-data pixel dimana masing-masing pixelnya menyimpan sebuah nilai pada salah satu warna digital (Merah, Hijau, atau Biru &#8211; <strong>R</strong>ed<strong>G</strong>reen<strong>B</strong>lue). Lihat Gambar 1 untuk lebih jelasnya.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-466" title="081609_1748_RAWJPEGTI1.png" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/081609_1748_rawjpegti1.png?w=450&#038;h=585" alt="081609_1748_RAWJPEGTI1.png" width="450" height="585" /></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>Gambar 1. </strong>Bagan cara format RAW menyimpan data pixel gambar. Format susunan ini pada dasarnya terbentuk dari pola sensor digital yang juga serupa.<br />
</em></p>
<p>Pada tiap &#8216;modul&#8217; yang terdiri dari 4 pixel, terdiri dari sebuah pixel merah, sebuah pixel biru, dan dua buah pixel hijau. Kenapa ada 2 hijau??? Karena menurut studi para ilmuwan jenius di sana, mata kita lebih sensitif pada warna hijau; jadi supaya tangkapan sensor digital mirip-mirip dengan tangkapan mata kita, maka sensor digital pun dibuat lebih banyak menangkap warna hijau.</p>
<p>Kedetailan nilai warna pada tiap pixel tergantung pada kemampuan sensor digital itu sendiri, dimana didefinisikan dengan satuan &#8216;bit&#8217;. Pada umumnya kamera D-SLR saat ini mampu menangkap gambar dengan kedetailan/kedalaman (<em>bit depth</em>) hingga 12 bit. Coba buku manual kamera D-SLRnya dikeluarkan dari gudang (atau bawah kasur tergantung teman-teman ngekos atau tinggal di rumah) dan baca di bagian spesifikasi  sensor digitalnya&#8230; pasti ada! Baca lebih lanjut di <strong><span style="color:#993300;">&#8220;Sedikit tentang Bit Depth&#8221;</span></strong></p>
<blockquote><p>Mengapa format file RAW menyimpan data gambar dalam bentuk demikian? Well, sebenaranya karena begitulah cara sensor digital menangkap cahaya. Lebih jelasnya ada di  <strong><span style="color:#993300;">&#8220;Sensor Digital : Dari Photon Cahaya Menjadi Data Digital&#8221;</span><br />
</strong></p></blockquote>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Lalu Apa keunggulan dan kekurangan format RAW?</span><br />
</em></p>
<p><strong>Keunggulan format RAW</strong> adalah menyimpan segala sesuatu yang ditangkap oleh sensor digital. Tak ada data yang hilang! <em>File</em> RAW ini menyimpan kesempatan yang lebih luas untuk kustomisasi elemen-elemen visual pada hasil gambar. Kalau para &#8216;<em>purist</em>&#8216; menganggap fotografi digital bukan fotografi sesungguhnya karena terlalu banyak mengandalkan automatisasi komputer digital, seharusnya mereka mencoba <em>pipeline</em> kerja dengan format RAW ini&#8230; Format RAW ini adalah film negatif-nya fotografi digital. Segala ciri khas sang fotografer dapat masuk ke dalam karya fotografi saat memproses <em>file</em> RAW ini&#8230;</p>
<p><strong>Kekurangan format RAW</strong> adalah ukuran <em>file</em>nya yang relatif besar, yang kemudian menyebabkan lebih lambatnya data ditulis ke momory card setelah dipotret, serta berkurangnya jumlah <em>file</em> yang dapat muat ke dalam sebuah <em>memory card</em>. Selain itu, tidak adanya standardisasi dan penyeragaman ekstensi file RAW menyebabkan file RAW tidak dapat langsung digunakan sebagai format yang dapat langsung digunakan sebagai format sharing gambar atau untuk printing. Sebaliknya diperlukan sebuah proses konversi terlebih dahulu ke dalam format yang lebih jamak dipakai seperti TIFF atau JPEG.</p>
<h1 style="font-size:2em;text-align:left;"><span style="color:#333333;">Apa sih format TIFF itu?</span></h1>
<p>Format TIFF adalah data gambar yang telah mengalami proses interpolasi bayer (lihat gambar 2), sudah ada keputusan-keputusan mengenai parameter-parameter seperi sharpness, saturasi, white balance, dan lain sebagainya (dilakukan oleh prosesor di dalam kamera tentunya), namun belum atau baru sedikit mengalami proses kompresi.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-467" title="081609_1748_RAWJPEGTI2.png" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/081609_1748_rawjpegti2.png?w=450&#038;h=813" alt="081609_1748_RAWJPEGTI2.png" width="450" height="813" /></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>Gambar 2. </strong>Bagan proses interpolasi bayer (bayer interpolation) dari data RAW menjadi data TIFF atau JPEG<br />
</em></p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Data apa sih yang ada dalam sebuah file TIFF?</span><br />
</em></p>
<p>Pada dasarnya, dalam proses data gambar digital, semua <em>file</em> TIFF adalah hasil  proses dari <em>file</em> RAW. Kemungkinan TIFF tersebut diproses prosesor kamera atau melalui <em>post-processing</em> RAW di komputer.</p>
<p>Sebuah <em>file</em> TIFF dalam tahapan konversi pada umumnya belum mengalami kompresi yang dapat menyebabkan hilangnya sebagian data di dalamnya. Setiap pixel pada <em>file</em> TIFF dibentuk dari perhitungan nilai dari 4 pixel pada data RAW nya (1 modul pada data RAW). Inilah yang menyebabkan jumlah pixel pada sebuah <em>file</em> RAW lebih banyak daripada jumlah pixel pada TIFF yang dihasilkannya. Ini juga yang menyebabkan setiap pixel pada <em>file</em> TIFF dapat menyimpan 3 nilai, masing-masing untuk warna Merah, Hijau, dan Biru.</p>
<p><em>File</em> TIFF dapat disimpan dalam format kedalaman 16 bit (selain juga bisa 8 bit) dan hampir semua <em>software</em> grafis dapat membacanya. Bahkan format ini dapat menyimpan data gambar yang terdiri dari lebih dari satu layer, contohnya penggunaan <em>alpha channel</em>. Oleh karena itu, ini adalah format yang sangat jamak dipakai dalam dunia <em>printing</em>.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-468" title="081609_1748_RAWJPEGTI3.png" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/081609_1748_rawjpegti3.png?w=450&#038;h=582" alt="081609_1748_RAWJPEGTI3.png" width="450" height="582" /></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>Gambar 3. </strong>Bagan cara format TIFF menyimpan data digital gambar.<br />
</em></p>
<p>Salah satu keunggulan TIFF di sini adalah kemampuannya untuk menyimpan hasil kompresi &#8216;<em>lossless</em>&#8216;, yaitu memperkecil ukuran data gambar, tanpa kehilangan sedikitpun konten dari data gambar tersebut. Bagaimana bisa? Sebuah artikel di <strong>photo.net</strong> memberi sebuah simulasi yang sangat bisa menjelaskan hal ini:</p>
<p>Kita ibaratkan pada <em>file</em> RAW terdapat sepotong data dengan string seperti berikut ini</p>
<blockquote><p>&gt;<strong>17698388883940000091255555542</strong>&lt;</p></blockquote>
<p>Mungkinkah mengkompresi data ini tanpa menghilangkan kontennya sedikitpun? Ternyata bisa dengan cara menyimpannya dalam format sbb:</p>
<blockquote><p>&gt;<strong>1769838(4)3940(5)9125(6)42</strong>&lt;</p></blockquote>
<p>Dalam hal ini, data 555555 di&#8217;singkat&#8217; menjadi 5(6) yang dibaca 6 buah data berupa angka 5, sehingga datanya mengambil <em>space</em> lebih sedikit kan?</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Lalu Apa keunggulan dan kekurangan format TIFF?</span><br />
</em></p>
<p><strong>Keunggulan format TIFF</strong> adalah mampu menyeimbangkan antar kualitas gambar dan ukuran <em>file</em> dan dapat diterima oleh berbagai aplikasi grafis. Oleh karena itu, format ini jamak dipakai dalam transfer data gambar yang masih menuntut kualitas data gambar yang prima seperti stockphoto, gambar hasil desain grafis, atau untuk keperluan printing.</p>
<p><strong>Kekurangan format TIFF</strong> tentunya adalah ukuran <em>file</em>nya yang masih terlalu besar untuk sekedar keperluan <em>sharing</em> dan <em>preview</em> gambar. Oleh karena itulah diciptakan format JPEG.</p>
<h1 style="font-size:2em;text-align:left;"><span style="color:#333333;">Apa sih format JPEG itu?</span></h1>
<p>Format JPEG adalah format gambar yang telah mengalami kompresi semaksimal mungkin untuk kepentingan <em>sharing</em> dan <em>preview</em>. Format JPEG saat ini telah dikenal sebagai format yang paling populer untuk data gambar. Semua <em>software</em> grafis dapat membuka format <em>file</em> ini, bahkan untuk aplikasi lain contohnya audio atau aplikasi <em>accounting</em> dapat membuka format <em>file</em> ini jika memerlukan data gambar.</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Data apa sih yang ada dalam sebuah file JPEG?</span><br />
</em></p>
<p>Sama halnya dengan TIFF, setiap pixel pada <em>file</em> JPEG memiliki 3 nilai untuk masing-masing warna digital (RGB tadi). Tiap pixel pada <em>file</em> JPEG memiliki kedalaman 8 bit, oleh karena itu ukurannya bisa diminimalisasi.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-469" title="081609_1748_RAWJPEGTI4.png" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/081609_1748_rawjpegti4.png?w=450&#038;h=560" alt="081609_1748_RAWJPEGTI4.png" width="450" height="560" /></p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>Gambar 4. </strong>Bagan cara format JPEG menyimpan data digital gambar. Berbeda dengan file TIFF, format JPEG hanya dapat menyimpan data gambar dalam satu layer.<br />
</em></p>
<p>Namun berbeda dengan TIFF, kompresi dalam JPEG tidak menggunakan metode &#8216;lossless&#8217;, namun menggunakan metode &#8216;loosy&#8217;; artinya seiring dengan kompresi ukuran <em>file</em> yang semakin kecil, data gambar juga hilang. Namun penghilangan data gambar ini dibuat sedemikian rupa sehingga tidak begitu terlihat secara visual ketika ditampilkan di monitor komputer.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-528" title="Lossless-Loosy" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/lossless-loosy-01.jpg?w=450&#038;h=610" alt="Lossless-Loosy" width="450" height="610" /></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Gambar 5. </strong>Perbandingan kualitas gambar pada kompresi dengan metode &#8216;lossless&#8217; pada TIFF dan metode &#8216;loosy&#8217; pada JPEG.</p>
<p>Pada <em>file</em> JPEG dapat ditambahkan data EXIF, yaitu data atributif mengenai data teknis mengenai gambar JPEG tersebut, seperti tipe kamera yang digunakan untuk mengambil gambar JPEG tersebut, spesifikasi pengambilan gambarnya, hingga <em>software</em> grafis yang digunakan untuk memprosesnya.</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Lalu Apa keunggulan dan kekurangan format JPEG?</span><br />
</em></p>
<p><strong>Keunggulan format JPEG</strong> adalah ukurannya yang sangat kecil sehingga sangat portabel dan memudahkan preview serta sharing dengan cepat. Dalam kasus fotografi digital, penggunaan output JPEG mempercepat penulisan data gambar ke dalam <em>memory card</em>, serta menambah data gambar yang dapat dimuat dalam sebuah <em>memory card</em>.</p>
<p><strong>Kekurangan format JPEG</strong> adalah format kompresinya yang &#8216;<em>loosy</em>&#8216; sehingga kualitas gambar cenderung menurun. Untuk kepentingan preview mungkin ini tidak menjadi masalah, namun untuk kepentingan printing (terutama yang berukuran besar) ini menyebabkan degradasi kualitas gambar dibanding menggunakan format TIFF.</p>
<p>_____________________________________________________________________________________</p>
<p>Masing-masing format memiliki kekurangan dan keunggulannya masing-masing. Lalu, format mana yang sebaiknya dipakai sebagai <em>output</em> kamera digital kita? <em>Sharing</em> saya berikut ini akan menggunakan kerangka berpikir &#8220;Saya akan menggunakan format RAW/JPEG/TIFF jika&#8230;&#8221;</p>
<p>Lanjutkan ke <span style="color:#993300;"><a title="RAW JPEG TIFF bag2" href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-dua/" target="_self">&#8220;page2&#8243;</a></span></p>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page1. Apa sih format Raw/Tiff/Jpeg itu? |</span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-dua/"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page2.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Saya akan menggunakan Raw/Tiff/Jpeg jika&#8230; </span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;">|</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/codec-untuk-membuka-file-raw-di-windows-explorer/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page3.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Codec untuk membuka file RAW di Windows Explorer</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/format-raw-vs-jpeg/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page4.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Mengapa saya pribadi memilih memakai RAW?</span> |</span></li>
</h5>
<div style="text-align:right;"><span style="font-size:small;"></p>
<p style="text-align:left;">All text and images © Putra Munchana 2009</p>
<p style="text-align:left;"><a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/"><img style="border:0 initial initial;" src="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" alt="Creative Commons License" /></a><br />
All Images &amp; Words @ bligungtre.wordpress.com by<a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="cc:attributionURL" href="http://bligungtre.wordpress.com/bligungtre.wordpress.com">Putra Munchana Anak Agung</a> is licensed under a <a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/">Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License</a>.</p>
<p></span></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bligungtre.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bligungtre.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bligungtre.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bligungtre.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bligungtre.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bligungtre.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bligungtre.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bligungtre.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bligungtre.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bligungtre.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bligungtre.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bligungtre.wordpress.com/470/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bligungtre.wordpress.com/470/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bligungtre.wordpress.com/470/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=470&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/raw-%e2%80%93-jpeg-%e2%80%93-tiff-bagian-satu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/71cb7004d0540debb275d86f6db3f596?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">bligungtre</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_121.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kop_12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/081609_1748_rawjpegti1.png" medium="image">
			<media:title type="html">081609_1748_RAWJPEGTI1.png</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/081609_1748_rawjpegti2.png" medium="image">
			<media:title type="html">081609_1748_RAWJPEGTI2.png</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/081609_1748_rawjpegti3.png" medium="image">
			<media:title type="html">081609_1748_RAWJPEGTI3.png</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/081609_1748_rawjpegti4.png" medium="image">
			<media:title type="html">081609_1748_RAWJPEGTI4.png</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/lossless-loosy-01.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Lossless-Loosy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" medium="image">
			<media:title type="html">Creative Commons License</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mode Manual</title>
		<link>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-m-full-manual/</link>
		<comments>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-m-full-manual/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 02:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bligungtre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo | Basic TechniQue]]></category>
		<category><![CDATA[09e | Full Manual]]></category>
		<category><![CDATA[Aperture Priority]]></category>
		<category><![CDATA[D-SLR]]></category>
		<category><![CDATA[Exposure Value]]></category>
		<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[ISO Speed]]></category>
		<category><![CDATA[kamera compact]]></category>
		<category><![CDATA[kamera D-SLR]]></category>
		<category><![CDATA[Mode Manual]]></category>
		<category><![CDATA[Shutter Speed Priority]]></category>
		<category><![CDATA[upgrade DSLR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bligungtre.wordpress.com/?p=556</guid>
		<description><![CDATA[page1. Intro-duksion &#124; page2. Memotret dengan Mode P &#8211; Program &#124; page3. Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority &#124; page4. Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority &#124; page5. Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual &#124; . . Pada mode ini, kita mengatur SEMUA SETTING yang ada: Aperture, Shutter speed, ISO Speed. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=556&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:right;"><span style="font-size:small;"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-836" title="Kop_09" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_092.jpg?w=450&#038;h=225" alt="Kop_09" width="450" height="225" /></strong></span></div>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;"><a href="http://wp.me/szBh2-09pasm"><span style="color:#993300;">page1.</span></a></span> <span style="color:#888888;">Intro-duksion</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-p-program/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page2.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode P &#8211; Program</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page3</span></span></a><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/09/01/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority </span>|</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-a-av-aperture-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page4.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page5.</span><span style="color:#ffcc99;"> Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual |</span></li>
</h5>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#888888;"> </span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#888888;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p>Pada mode ini, kita mengatur SEMUA <em>SETTING</em> yang ada: <strong><em><span style="color:#ff0000;">Aperture</span></em></strong>, <strong><em><span style="color:#3366ff;">Shutter speed</span></em></strong>, <strong><span style="color:#008000;">ISO Speed</span></strong>. Dan tak ada yang namanya parameter <strong><em><span style="color:#800080;">Exposure value</span></em><span style="color:#800080;"> (eV)</span></strong> pada mode ini. <em>Well</em>, parameternya tetap ada, tapi tidak bisa kita atur. Parameter ini akan dikalkulasi komputer setelah kita memasukkan nilai <strong><em><span style="color:#ff0000;">Aperture</span></em> </strong>dan <strong><em><span style="color:#3366ff;">Shutter speed</span></em></strong> berdasarkan pencahayaan yang dibaca oleh komputer. Pada mode M ini, parameter <strong><span style="color:#993366;">eV</span></strong> berguna sebagai referensi cepat akan jumlah cahaya yang jatuh ke sensor jika memotret menggunakan <em>setting</em> yang kita atur.</p>
<p><span id="more-556"></span><em>Pola Berpikir pada mode M</em></p>
<p>Hehehe&#8230; bagi saya tak ada pola berpikir khusus dalam mode manual ini&#8230; masukkan semua <em>setting</em>, baca cepat parameter <span style="color:#993366;">eV</span>, langsung <em>jepret</em> deh&#8230;</p>
<p>Seiring dengan pemahaman mengenai <em>setting</em>-<em>setting</em> kamera digital yang semakin mantap, tentunya nanti teman-teman (sesama <em>newbie</em>, ato yang lebih <em>newbie</em> dari saya &#8211; kalo memang ada) akan menemukan alasan menggunakan mode ini lebih sering&#8230;</p>
<p><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;"><br />
</span></span></p>
<p style="text-align:left;">All text and images © Putra Munchana 2009</p>
<p style="text-align:left;"><a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/"><img style="border:0 initial initial;" src="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" alt="Creative Commons License" /></a><br />
All Images &amp; Words @ bligungtre.wordpress.com by<a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="cc:attributionURL" href="http://bligungtre.wordpress.com/bligungtre.wordpress.com">Putra Munchana Anak Agung</a> is licensed under a <a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/">Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License</a>.</p>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#993300;"><em><br />
</em></span></div>
<blockquote>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#333333;"><br />
</span></p>
</blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bligungtre.wordpress.com/556/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bligungtre.wordpress.com/556/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bligungtre.wordpress.com/556/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bligungtre.wordpress.com/556/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bligungtre.wordpress.com/556/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bligungtre.wordpress.com/556/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bligungtre.wordpress.com/556/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bligungtre.wordpress.com/556/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bligungtre.wordpress.com/556/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bligungtre.wordpress.com/556/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bligungtre.wordpress.com/556/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bligungtre.wordpress.com/556/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bligungtre.wordpress.com/556/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bligungtre.wordpress.com/556/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=556&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-m-full-manual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/71cb7004d0540debb275d86f6db3f596?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">bligungtre</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_092.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kop_09</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" medium="image">
			<media:title type="html">Creative Commons License</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mode Aperture Priority</title>
		<link>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-a-av-aperture-priority/</link>
		<comments>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-a-av-aperture-priority/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 02:04:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bligungtre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo | Basic TechniQue]]></category>
		<category><![CDATA[09d|mode Av]]></category>
		<category><![CDATA[Aperture Priority]]></category>
		<category><![CDATA[D-SLR]]></category>
		<category><![CDATA[Exposure Value]]></category>
		<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[ISO Speed]]></category>
		<category><![CDATA[kamera compact]]></category>
		<category><![CDATA[kamera D-SLR]]></category>
		<category><![CDATA[Mode Manual]]></category>
		<category><![CDATA[Shutter Speed Priority]]></category>
		<category><![CDATA[upgrade DSLR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bligungtre.wordpress.com/?p=554</guid>
		<description><![CDATA[page1. Intro-duksion &#124; page2. Memotret dengan Mode P &#8211; Program &#124; page3. Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority &#124; page4. Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority &#124; page5. Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual &#124; . . Pada mode ini, kita mengatur setting ISO Speed, Aperture, dan Exposure value– Komputer dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=554&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:right;"><span style="font-size:small;"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-836" title="Kop_09" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_092.jpg?w=450&#038;h=225" alt="Kop_09" width="450" height="225" /></strong></span></div>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;"><a href="http://wp.me/szBh2-09pasm"><span style="color:#993300;">page1.</span></a></span> <span style="color:#888888;">Intro-duksion</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-p-program/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page2.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode P &#8211; Program</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page3</span></span></a><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/09/01/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority </span>|</span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page4. Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-m-full-manual/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page5.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual</span> |</span></li>
</h5>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">.</span></div>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">.</span></div>
<div style="text-align:left;">Pada mode ini, kita mengatur <em>setting</em> <strong><em><span style="color:#008000;">ISO Speed</span></em></strong><em>, <strong><span style="color:#ff0000;">Aperture</span></strong></em>, dan <strong><em><span style="color:#993366;">Exposure value</span></em></strong>– Komputer dalam kamera akan menentukan nilai <strong><em><span style="color:#3366ff;">Shutter speed</span></em></strong> berdasarkan kombinasi nilai <strong>eV</strong> dan <strong><em>Aperture</em></strong> yang kita masukkan.</div>
<p><em><span id="more-554"></span>Tentang <strong><span style="color:#993366;">Exposure value(eV)</span></strong></em></p>
<blockquote><p>Tidak ada yang aneh dari parameter ini, makin ke kanan nilainya, makin terang gambarnya&#8230; sesimpel itu&#8230; menaikkan eV satu tingkat (dari 0 ke +1, atau dari +1 ke +2) disebut naik satu stop, dan jika sebaliknya disebut turun satu stop.</p></blockquote>
<p><em>Tentang <strong><span style="color:#008000;">ISO Speed</span></strong></em></p>
<blockquote><p>Seperti yang telah dijelaskan di atas, ISO Speed adalah tingkat sensitivitas sensor terhadap cahaya yang jatuh di permukaannya. ISO Speed ditunjukkan dengan angka; biasanya ditulis</p>
<p>ISO 64, ISO 80, ISO 100, ISO 200, ISO 400, ISO 800, ISO 1600, ISO 3200, dst.</p>
<p>Makin tinggi nilai ISOnya, maka sensitivitas sensor digital terhadap cahaya makin tinggi, sehingga gambar semakin terang. Menaikkan ISO satu tingkat (misal dari ISO 100 ke ISO 200) disebut ‘menaikkan ISO satu stop’.</p>
<p>Namun seiring meningkatnya nilai ISO, <em>noise</em> yang timbul juga semakin banyak. Oleh karena itu, utamakan meningkatkan nilai eV dulu, jika masih kurang terang, atau gambar menjadi <em>shake</em> atau tidak tajam, baru ‘terpaksa’ menaikkan nilai ISO.</p></blockquote>
<p><em>Tentang <strong><span style="color:#ff0000;">Aperture </span></strong></em></p>
<blockquote><p>Nilai <em>Aperture</em> adalah lebar bukaan di depan sensor digital, sehingga semakin lebar bukaan <em>Aperture</em> ini maka semakin banyak cahaya yang jatuh pada sensor digital dan makin terang pulalah hasil gambarnya. <em>Setting</em> <em>Aperture</em> ini disebut dengan terminologi ‘f/’. Macam-macam <em>setting</em> ini biasanya ditulis</p>
<p>f/1,8   f/2,0   f/2,2   f/2,5   f/2,8   f/3,2   f/3,5   f/4,0   f/4,5   f/5,0   f/5,6   f/6,3   f/7,1   f/8,0   f/9,0   f/10   dst&#8230;.</p>
<p>Satu hal yang membingungkan adalah, semakin lebar bukaan <em>Aperture</em>, semakin kecil nilai f/ yang mewakilinya. Jadi <em>setting</em> <em>Aperture</em> f/1,8 sesungguhnya lebih lebar bukaannya daripada <em>setting</em> <em>Aperture</em> f/4,0. Tentu makin lebar bukaannya, semakin banyak cahaya yang jatuh pada sensor digital. Kesimpulannya, <strong>semakin kecil nilai f/ nya, semakin terang gambar yang dihasilkannya</strong>.</p>
<p>Satu hal penting lagi yang harus diingat adalah : <strong>semakin lebar bukaannya, semakin sempit area yang cukup fokus</strong>. Jadi jika bukaan lebar, maka gambar menjadi terang, dan daerah fokus sempit.</p></blockquote>
<p>Gunakan mode A ini jika memotret suasana dimana gambar hasilnya memiliki kepentingan dengan lebar-sempitnya area fokus (<em>depth of field</em> atau DoF).</p>
<p>Namun di sisi lain, mode A ini juga adalah mode yang paling aman untuk mode sehari-hari. Kamera saya sendiri selalu berada pada mode A ini, kecuali saya sedang menginginkan efek yang berhubungan dengan pergerakan (Tv) atau sedang memotret macro (<em>full-manual</em>). Mengapa? Karena nilai <em><span style="color:#ff0000;">Aperture</span></em> mempengaruhi lebar daerah yang fokus (lebar DoF), dan lebar DoF adalah hal yang saya ingin pertahankan selama memotret (misalkan) dokumentasi sebuah acara. Andaikata saya menggunakan mode S, dan kemudian tanpa sadar pencahayaan ruangan berkurang, tentu komputer kamera akan memperlebar bukaan <span style="color:#ff0000;"><em>Aperture</em></span>&#8230;. lebar daerah fokus pun berkurang&#8230; dan jangan-jangan saat memotret rombongan besar, baris paling depan tidak masuk ke dalam area fokus&#8230; kan bisa <em>gaswat tuh</em>!!!</p>
<p><em>Pola Berpikir pada mode A / Av</em></p>
<ul>
<li>Bidik dengan nilai <strong><span style="color:#993366;">eV</span></strong> nol (pointer tepat di tengah parameter), dan tentukanlah <em>setting</em> <strong><em><span style="color:#ff0000;">Aperture</span></em></strong> sesuai dengan lebar daerah fokus yang diinginkan. Biasanya saya menggunakan nilai default di f/8 &#8211; f/12 untuk foto sehari-hari. Untuk potrait jarak dekat, saya gunakan f/4 – f/5. Sementara untuk potrait agak jauh, saya gunakan bukaan terlebar yang bisa dilakukan lensa saya untuk mengisolasi orang yang saya foto, dan mendapatkan <em>background</em> tidak fokus yang indah (biasanya disebut bokéh yang indah)</li>
<li>Kemudian komputer akan menentukan nilai <strong><em><span style="color:#3366ff;">Shutter speed</span></em></strong> yang cocok.</li>
<li>Jika gambar terlalu gelap/terang, atur lagi nilai <strong><span style="color:#993366;">eV</span></strong>nya. Lalu coba lagi.</li>
<li>Jika gambar masih kurang gelap/terang, sementara nilai<span style="color:#993366;"> </span><strong><span style="color:#993366;">eV</span></strong> sudah mentok di posisi paling kiri/kanan; atau nilai <strong><em><span style="color:#3366ff;">shutter speed</span></em></strong> yang ditentukan komputer sudah tidak sesuai dengan pemotretan yang bersangkutan (lihat sekilas ancer-ancernya di pola berpikir mode S/Tv) baru naik/turunkan nilai <strong><span style="color:#008000;">ISO Speed</span></strong>, tentu selalu ingat dengan kompensasi: <em>noise</em> akan semakin terlihat pada <strong><span style="color:#008000;">ISO Speed</span></strong> yang makin tinggi.</li>
</ul>
<p>Seiring semakin sering teman-teman memotret, hal ini akan menjadi kegiatan bawah sadar, bahkan nantinya teman-teman bisa langsung tahu <em>setting</em> yang tepat hanya dengan melihat kondisi cahaya dari suasana yang akan dipotret.</p>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;"><a href="http://wp.me/szBh2-09pasm"><span style="color:#993300;">page1.</span></a></span> <span style="color:#888888;">Intro-duksion</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-p-program/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page2.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode P &#8211; Program</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page3</span></span></a><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/09/01/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority </span>|</span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page4. Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-m-full-manual/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page5.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual</span> |</span></li>
</h5>
<p style="text-align:left;">All text and images © Putra Munchana 2009</p>
<p style="text-align:left;"><a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/"><img style="border:0 initial initial;" src="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" alt="Creative Commons License" /></a><br />
All Images &amp; Words @ bligungtre.wordpress.com by<a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="cc:attributionURL" href="http://bligungtre.wordpress.com/bligungtre.wordpress.com">Putra Munchana Anak Agung</a> is licensed under a <a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/">Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bligungtre.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bligungtre.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bligungtre.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bligungtre.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bligungtre.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bligungtre.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bligungtre.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bligungtre.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bligungtre.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bligungtre.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bligungtre.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bligungtre.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bligungtre.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bligungtre.wordpress.com/554/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=554&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-a-av-aperture-priority/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/71cb7004d0540debb275d86f6db3f596?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">bligungtre</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_092.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kop_09</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" medium="image">
			<media:title type="html">Creative Commons License</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mode Shutter Speed Priority</title>
		<link>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/</link>
		<comments>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 02:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bligungtre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo | Basic TechniQue]]></category>
		<category><![CDATA[09c|ModeTv]]></category>
		<category><![CDATA[Aperture Priority]]></category>
		<category><![CDATA[D-SLR]]></category>
		<category><![CDATA[Exposure Value]]></category>
		<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[ISO Speed]]></category>
		<category><![CDATA[kamera compact]]></category>
		<category><![CDATA[kamera D-SLR]]></category>
		<category><![CDATA[Mode Manual]]></category>
		<category><![CDATA[Shutter Speed Priority]]></category>
		<category><![CDATA[upgrade DSLR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bligungtre.wordpress.com/?p=550</guid>
		<description><![CDATA[page1. Intro-duksion &#124; page2. Memotret dengan Mode P &#8211; Program &#124; page3.Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority&#124; page4. Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority &#124; page5. Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual &#124; . . Pada mode ini, kita mengatur setting ISO Speed, Shutter speed, dan Exposure value– Komputer dalam kamera [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=550&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:right;"><span style="font-size:small;"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-836" title="Kop_09" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_092.jpg?w=450&#038;h=225" alt="Kop_09" width="450" height="225" /></strong></span></div>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://wp.me/szBh2-09pasm"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page1.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Intro-duksion</span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"> |</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-p-program/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page2.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode P &#8211; Program</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page3</span><span style="color:#ffcc99;">.</span><span style="color:#ffcc99;">Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority</span><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#ffcc99;">|</span></span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-a-av-aperture-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page4.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-m-full-manual/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page5.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual</span> |</span></li>
</h5>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p>Pada mode ini, kita mengatur <em>setting</em> <strong><em><span style="color:#008000;">ISO Speed</span></em></strong>, <strong><em><span style="color:#3366ff;">Shutter speed</span></em></strong>, dan <strong><em><span style="color:#993366;">Exposure value</span></em></strong>– Komputer dalam kamera akan menentukan nilai <strong><em><span style="color:#ff0000;">Aperture</span></em> </strong>berdasarkan kombinasi nilai <strong>eV</strong> dan <strong><em>Shutter speed</em></strong> yang kita masukkan.</p>
<p><em><span id="more-550"></span>Tentang <strong><span style="color:#993366;">Exposure value(eV)</span></strong></em></p>
<blockquote><p>Tidak ada yang aneh dari parameter ini, makin ke kanan nilainya, makin terang gambarnya&#8230; sesimpel itu&#8230; menaikkan eV satu tingkat (dari 0 ke +1, atau dari +1 ke +2) disebut naik satu stop, dan jika sebaliknya disebut turun satu stop.</p></blockquote>
<p><em>Tentang</em><em><span style="color:#008000;"> </span><strong><span style="color:#008000;">ISO Speed</span></strong></em></p>
<blockquote><p>Seperti yang telah dijelaskan di atas, ISO Speed adalah tingkat sensitivitas sensor terhadap cahaya yang jatuh di permukaannya. ISO Speed ditunjukkan dengan angka; biasanya ditulis</p>
<p>ISO 64, ISO 80, ISO 100, ISO 200, ISO 400, ISO 800, ISO 1600, ISO 3200, dst.</p>
<p>Makin tinggi nilai ISOnya, maka sensitivitas sensor digital terhadap cahaya makin tinggi, sehingga gambar semakin terang. Menaikkan ISO satu tingkat (misal dari ISO 100 ke ISO 200) disebut ‘menaikkan ISO satu stop’.</p>
<p>Namun seiring meningkatnya nilai ISO, <em>noise</em> yang timbul juga semakin banyak. Oleh karena itu, utamakan meningkatkan nilai eV dulu, jika masih kurang terang, atau gambar menjadi <em>shake</em> atau tidak tajam, baru ‘terpaksa’ menaikkan nilai ISO.</p></blockquote>
<p><em>Tentang <strong><span style="color:#3366ff;">Shutter speed </span></strong></em></p>
<blockquote><p>Seperti yang telah dijelaskan di atas, nilai <em>shutter speed</em> adalah lamanya sensor akan menerima cahaya dalam satuan detik. Tentu saja semakin lama sensor menerima cahaya, maka semakin teranglah gambar yang dihasilkan.</p></blockquote>
<p>Mode S atau Tv ini sangat berguna untuk mengatur efek pergerakan. Apakah teman-teman ingin menangkap &#8216;gerak&#8217; dari sebuah benda, atau justru ingin melakukan <em>freezing</em>. Dengan mengatur lamanya sensor digital terpapar cahaya<em> (shutter speed),</em> kita bisa mendapatkan efek-efek :</p>
<ul>
<li>Dengan mengatur <em>shutter speed</em> yang amat cepat- melakukan <em>freezing:</em></li>
<li>Dengan mengatur <em>shutter speed</em> yang amat lambat -
<ul>
<li>mendapatkan efek pergerakan</li>
</ul>
<ul>
<li>Dramatisasi fotografis tertentu.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p><em> </em></p>
<p>Dalam mengatur <em>shutter speed</em>, tentulah harus diingat bahwa semakin cepat <em>shutter speed</em>, makin sedikit cahaya yang jatuh di sensor, makin gelap gambar yang dihasilkan. Begitu pula sebaliknya.</p>
<p>Makanya, dalam menggunakan mode Tv untuk melakukan <em>freezing</em> (<em><span style="color:#3366ff;">shutter speed</span></em> cepat); untuk mengkompensasi sedikitnya cahaya yang jatuh pada sensor digital, kita harus meningkatkan nilai <em><span style="color:#ff0000;">aperture</span></em> (bukaan lebih lebar) melalui parameter <span style="color:#993366;">eV</span>, yaitu menggeser pointer pada parameter <span style="color:#993366;">eV</span> ke kanan; dan/atau menggunakan nilai <span style="color:#008000;">ISO Speed</span> yang lebih tinggi (sensitivitas sensor meningkat); dan/atau menyalakan lebih banyak lampu jika memotret <em>indoor</em>; memotret saat siang yang cerah jika <em>outdoor</em>.</p>
<p>Untuk kamera D-SLR, menggunakan lensa dengan bukaan maksimal yg besar juga bisa membantu <em>freezing</em> ini.. Namun ini biasanya hanya perlu untuk <em>freezing</em> dengan kondisi pencahayaan sekitar yang redup saja..</p>
<p>Sementara untuk memotret dengan <em><span style="color:#3366ff;">shutter speed</span></em> yang lambat memiliki tantangan mengenai mempertahankan kamera stabil selama periode eksposur, agar gambar yang dihasilkan tidak<em> shake</em>. Ini bisa diatasi dengan memakai tripod. Tantangan lainnya adalah mengatasi cahaya berlebihan yang jatuh pada sensor kamera karena waktu eksposur yang begitu lama. Ini dapat diatasi dengan menurunkan nilai <em><span style="color:#ff0000;">aperture</span></em> melaui parameter <span style="color:#993366;">eV</span> (geser pointer ke kiri); dan/atau memotretlah di saat subuh atau senja.</p>
<p>Untuk kamera D-SLR, menggunakan filter ND juga dapat membantu. Filter ini berfungsi seperti kacamata hitam, mengurangi cahaya yang dapat jatuh ke sensor digital.</p>
<p><em>Pola Berpikir pada mode S / Tv</em></p>
<ul>
<li>Bidik dengan nilai <strong><span style="color:#993366;">eV</span> </strong>nol (pointer tepat di tengah parameter), dan tentukanlah <em>setting</em> <strong><em><span style="color:#3366ff;">shutter speed</span></em></strong> yang teman-teman inginkan. Untuk <em>freezing</em> (misal) pertandingan sepak bola, acuan kasarnya saya selalu mempertahankan<span style="color:#3366ff;"> </span><strong><em><span style="color:#3366ff;">shutter speed</span></em></strong> di sekitar 1/500 detik. Untuk memotret orang/potrait model mulai dari jarak jauh hingga <em>close up</em>, saya pertahankan <strong><em><span style="color:#3366ff;">shutter speed</span></em></strong> di sekitar 1/80 – 1/160 detik. Makro serangga diam di 1/200 detik. Kalau lansekap tergantung pada kondisi pencahayaan sekitar.</li>
<li>Kemudian komputer dalam kamera akan menentukan nilai <strong><em><span style="color:#ff0000;">Aperture</span></em></strong><span style="color:#ff0000;">.</span></li>
<li>Jika gambar terlalu gelap/terang, atur lagi nilai <strong><span style="color:#993366;">eV</span></strong>nya. Lalu coba lagi.</li>
<li>Jika gambar masih kurang gelap/terang, sementara nilai <strong><span style="color:#993366;">eV</span></strong> sudah mentok di posisi paling kiri/kanan; atau nilai <strong><em><span style="color:#ff0000;">Aperture</span></em></strong> yang ditentukan komputer sudah tidak sesuai untuk pemotretan yang bersangkutan (lihat sekilas ancer-ancernya di pola berpikir dengan mode A) baru naik/turunkan nilai <strong><span style="color:#339966;">ISO Speed</span></strong>. Tentu selalu ingatlah dengan kompensasi: <em>noise</em> akan semakin terlihat pada ISO yang makin tinggi.</li>
</ul>
<p>Seiring semakin sering teman-teman memotret, hal ini akan menjadi kegiatan bawah sadar, bahkan nantinya teman-teman bisa langsung tahu <em>setting</em> yang tepat hanya dengan melihat kondisi cahaya dari suasana yang akan dipotret.</p>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://wp.me/szBh2-09pasm"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page1.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Intro-duksion</span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"> |</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-p-program/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page2.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode P &#8211; Program</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page3</span><span style="color:#ffcc99;">.</span><span style="color:#ffcc99;">Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority</span><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#ffcc99;">|</span></span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-a-av-aperture-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page4.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-m-full-manual/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page5.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual</span> |</span></li>
</h5>
<p style="text-align:left;">All text and images © Putra Munchana 2009</p>
<p style="text-align:left;"><a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/"><img style="border:0 none initial;" src="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" alt="Creative Commons License" /></a><br />
All Images &amp; Words @ bligungtre.wordpress.com by<a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="cc:attributionURL" href="http://bligungtre.wordpress.com/bligungtre.wordpress.com">Putra Munchana Anak Agung</a> is licensed under a <a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/">Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License</a>.</p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#993300;"><em><br />
</em></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bligungtre.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bligungtre.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bligungtre.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bligungtre.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bligungtre.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bligungtre.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bligungtre.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bligungtre.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bligungtre.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bligungtre.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bligungtre.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bligungtre.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bligungtre.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bligungtre.wordpress.com/550/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=550&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/71cb7004d0540debb275d86f6db3f596?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">bligungtre</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_092.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kop_09</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" medium="image">
			<media:title type="html">Creative Commons License</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mode Program</title>
		<link>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-p-program/</link>
		<comments>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-p-program/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 02:02:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bligungtre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo | Basic TechniQue]]></category>
		<category><![CDATA[09b | Program]]></category>
		<category><![CDATA[Aperture Priority]]></category>
		<category><![CDATA[D-SLR]]></category>
		<category><![CDATA[Exposure Value]]></category>
		<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[ISO Speed]]></category>
		<category><![CDATA[kamera compact]]></category>
		<category><![CDATA[kamera D-SLR]]></category>
		<category><![CDATA[Mode Manual]]></category>
		<category><![CDATA[Shutter Speed Priority]]></category>
		<category><![CDATA[upgrade DSLR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bligungtre.wordpress.com/?p=547</guid>
		<description><![CDATA[page1. Intro-duksion &#124; page2. Memotret dengan Mode P &#8211; Program &#124; page3. Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority &#124; page4. Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority &#124; page5. Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual &#124; . . Pada mode ini, kita mengatur setting ISO Speed dan Exposure value (eV) – Komputer akan menentukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=547&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:right;"><span style="font-size:small;"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-836" title="Kop_09" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_092.jpg?w=450&#038;h=225" alt="Kop_09" width="450" height="225" /></strong></span></div>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://wp.me/szBh2-09pasm"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page1.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Intro-duksion</span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"> |</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page2. Memotret dengan Mode P &#8211; Program |</span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page3</span></span></a><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/09/01/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority </span>|</span></span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-a-av-aperture-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page4.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-m-full-manual/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page5.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual</span> |</span></li>
</h5>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p>Pada mode ini, kita mengatur <em>setting</em><span style="color:#339966;"> </span><strong><span style="color:#339966;">ISO Speed</span></strong> dan <strong><em><span style="color:#993366;">Exposure value</span></em><span style="color:#993366;"> (eV)</span></strong> – Komputer akan menentukan nilai <em><span style="color:#ff0000;">Aperture</span></em> dan <em><span style="color:#3366ff;">Shutter speed</span></em><span style="color:#3366ff;"> </span>berdasarkan nilai eV yang kita masukkan.</p>
<p><em><span id="more-547"></span>Tentang <strong><span style="color:#993366;">Exposure value(eV)</span></strong></em></p>
<blockquote><p>Tidak ada yang aneh dari parameter ini, makin ke kanan nilainya, makin terang gambarnya&#8230; sesimpel itu&#8230; menaikkan eV satu satu &#8220;&gt;tingkat (dari 0 ke +1, atau dari +1 ke +2) disebut disebut &#8220;&gt;naik satu stop, dan jika sebaliknya disebut turun satu stop.</p></blockquote>
<p><em>Tentang <strong><span style="color:#339966;">ISO Speed</span></strong></em></p>
<blockquote><p>Seperti yang telah dijelaskan di atas, ISO Speed adalah tingkat sensitivitas sensor terhadap cahaya yang jatuh di permukaannya. ISO Speed ditunjukkan dengan angka; biasanya ditulis</p>
<p>ISO 64, ISO 80, ISO 100, ISO 200, ISO 400, ISO 800, ISO 1600, ISO 3200, dst.</p>
<p>Makin tinggi tinggi &#8220;&gt;nilai ISOnya, maka sensitivitas sensor digital terhadap cahaya makin tinggi, sehingga gambar semakin terang. Menaikkan ISO satu satu &#8220;&gt;tingkat (misal dari ISO 100 ke ISO 200) disebut ‘menaikkan ISO satu stop’.</p>
<p>Namun seiring meningkatnya nilai ISO, <em>noise</em> yang timbul juga semakin banyak. Oleh karena itu, utamakan meningkatkan nilai eV dulu, jika masih kurang terang, atau gambar menjadi <em>shake</em> atau tidak tajam, baru ‘terpaksa’ menaikkan nilai ISO.</p></blockquote>
<p>Mode program ini adalah sama dengan MODE AUTO bagi pemakai kamera digital yang sudah paham mengenai 3 <em>setting</em> dasar kamera digital. Namun di sisi lain mode ini adalah mode yang baik bagi pemakai kamera digital yang sebelumnya selalu menggunakan mode Auto, untuk mulai belajar <em>setting</em>-<em>setting</em> dasar penggunaan kamera digital. Dalam pengalaman saya sendiri, saya mulai dapat <em>feel</em> akan <em>setting</em> <em>aperture</em> dan <em>shutter speed</em> dengan melihat <em>setting</em> yang dilakukan komputer dengan menggunakan mode P ini; untuk kemudian melangkah lebih jauh ke mode A dan S (yang disebut Av dan Tv pada kamera digital Canon).</p>
<p><em>Pola Berpikir pada mode P</em></p>
<p>Bidik dengan nilai <strong><span style="color:#993366;">eV</span></strong><span style="color:#993366;"> </span>nol (<em>pointe</em>r tepat di tengah parameter), jika kurang kurang &#8220;&gt;terang atau kurang gelap, ubah nilai<span style="color:#993366;"> </span><strong><span style="color:#993366;">eV</span></strong> naik atau turun. Jika suatu saat, gambar kurang terang; dan kemudian setelah nilai <strong><span style="color:#993366;">eV</span></strong> ditambah, gambar malah menjadi <em>shake</em> atau tidak tajam, baru menaikkan nilai <strong><span style="color:#339966;">ISO Speed</span></strong> sebanyak satu atau dua stop.</p>
<p>Seiring semakin sering teman-teman teman-teman &#8220;&gt;memotret, hal ini akan menjadi kegiatan bawah sadar, bahkan nantinya teman-teman bisa langsung tahu <em>setting</em> yang tepat hanya dengan melihat kondisi cahaya dari suasana yang akan dipotret.</p>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><span style="color:#993300;"><a href="http://wp.me/szBh2-09pasm"><span style="color:#993300;"><span style="font-weight:normal;">page1.</span></span></a></span><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="color:#888888;"><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#808080;">Intro-duksion</span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-weight:normal;"> |</span></span></span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page2. Memotret dengan Mode P &#8211; Program |</span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page3</span></span></a><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/09/01/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority </span>|</span></span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-a-av-aperture-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page4.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-m-full-manual/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page5.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual</span> |</span></li>
</h5>
<p style="text-align:left;">All text and images © Putra Munchana 2009</p>
<p style="text-align:left;"><a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/"><img style="border:0 none initial;" src="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" alt="Creative Commons License" /></a><br />
All Images &amp; Words @ bligungtre.wordpress.com by<a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="cc:attributionURL" href="http://bligungtre.wordpress.com/bligungtre.wordpress.com">Putra Munchana Anak Agung</a> is licensed under a <a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/">Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License</a>.</p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#993300;"><em><br />
</em></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bligungtre.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bligungtre.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bligungtre.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bligungtre.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bligungtre.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bligungtre.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bligungtre.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bligungtre.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bligungtre.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bligungtre.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bligungtre.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bligungtre.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bligungtre.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bligungtre.wordpress.com/547/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=547&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-p-program/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/71cb7004d0540debb275d86f6db3f596?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">bligungtre</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_092.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kop_09</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" medium="image">
			<media:title type="html">Creative Commons License</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menggunakan Mode P.A.S.M pada Kamera Digital</title>
		<link>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/09pasm/</link>
		<comments>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/09pasm/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 02:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bligungtre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[09|PASM p1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bligungtre.wordpress.com/?p=691</guid>
		<description><![CDATA[page1. Intro-duksion &#124; page2. Memotret dengan Mode P &#8211; Program &#124; page3. Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority &#124; page4. Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority &#124; page5. Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual &#124; . . Kamera Digital dewasa ini memberikan banyak cara automatisasi (full ataupun sebagian) untuk menentukan setting-setting Shutter [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=691&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:right;"><span style="font-size:small;"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-836" title="Kop_09" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_092.jpg?w=450&#038;h=225" alt="Kop_09" width="450" height="225" /></strong></span></div>
<h5>
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page1. Intro-duksion</span><span style="color:#ffcc99;"> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-p-program/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page2.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode P &#8211; Program</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="color:#993300;">page3</span></a></span></span><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="color:#993300;">.</span></a></span></span><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority </span>|</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-a-av-aperture-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page4.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-m-full-manual/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page5.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual</span> |</span></li>
</h5>
<p><span style="color:#888888;"> </span></p>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">.</span></p>
<p>Kamera Digital dewasa ini memberikan banyak cara automatisasi (<em>full</em> ataupun sebagian) untuk menentukan <em>setting-setting</em> Shutter Speed, Aperture, ISO Speed, dan Exposure Value. <em>Sharing</em> saya berikut ini hanya bisa digunakan dengan kamera-kamera digital yang memiliki fitur PASM. Semua D-SLR dan kamera <em>compact</em> prosumer memiliki fitur PASM ini. Kalo ndak yakin dengan keberadaan fitur ini pada kamera teman-teman, lihatlah pada mode dial-nya, apakah ada mode P, mode A, mode S, dan mode M nya?? Lihat gambar untuk lebih jelas.</p>
<p>Lalu apa arti mode-mode ini? Berikut artinya:</p>
<p><strong><img style="display:block;margin-left:auto;margin-right:auto;border:0 initial initial;" title="Automatisasi Kamera Digital" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/basic-tech-03-03.jpg?w=450&#038;h=239" alt="Automatisasi Kamera Digital" width="450" height="239" /><br />
</strong></p>
<p><span id="more-691"></span>Hmm&#8230; kalau sudah ada mode P-Program yang dapat menentukan nilai eksposur, untuk apa ada mode <em>Aperture</em> dan <em>Shutter speed</em> lagi? Kan nilai <em>aperture</em> dan <em>shutter speed</em> ini yang menentukan nilai eksposur???</p>
<p>Mode <em>Aperture</em> dan <em>Shutter speed</em> <em>Priority</em> ini penting untuk menghasilkan efek-efek tertentu.  Berikut ini saya akan menjelaskan penggunaan masing-masing mode ini. Selama membaca ini, selalu ingat 3<em>setting</em> yang harus kita atur:<strong> </strong></p>
<p><strong><img style="display:block;margin-left:auto;margin-right:auto;border:0 initial initial;" title=" SEtting kamera digital yang HARUS diingat!!" src="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/basic-tech-02.jpg?w=300&#038;h=64" alt=" SEtting kamera digital yang HARUS diingat!!" width="300" height="64" /></strong></p>
<p style="text-align:left;">Lanjut&#8230;. berikut penjelasan sekilas dari tiap-tiap mode&#8230; kalau mau baca lebih lanjut tentang masing-masing mode, klik di text &#8216;baca lebih lanjut&#8217; di bawahnya&#8230; Sip? &#8230;&#8230;&#8230;.. Tancap Mang!!!</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><strong>Mode P &#8211; PROGRAMMABLE</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Pada mode ini, kita mengatur setting ISO Speed dan Exposure value(eV) – Komputer akan menentukan nilai Aperture dan Shutter speed berdasarkan nilai eV yang kita masukkan.</p>
<p style="text-align:left;">Mode program ini adalah sama dengan MODE AUTO bagi pemakai kamera digital yang sudah paham mengenai 3 setting dasar kamera digital. Namun di sisi lain mode ini adalah mode yang baik bagi pemakai kamera digital yang sebelumnya selalu menggunakan mode Auto, untuk mulai belajar setting-setting dasar penggunaan kamera digital. Dalam pengalaman saya sendiri, saya mulai dapat feelakan setting aperture dan shutter speed dengan melihat setting yang dilakukan komputer dengan menggunakan mode P ini; untuk kemudian melangkah lebih jauh ke mode A dan S (yang disebut Av dan Tv pada kamera digital Canon). Untuk membaca lebih jauh tentang Mode P ini,<span style="color:#993300;"> </span><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-p-program/"><span style="color:#993300;">k</span><span style="color:#993300;">lik di sini.</span></a></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:left;"><strong>Mode S &#8211; SHUTTER SPEED PRIORITY</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:left;">Pada mode ini, kita mengatur setting ISO Speed, Shutter speed, danExposure value– Komputer dalam kamera akan menentukan nilaiAperture berdasarkan kombinasi nilai eV dan Shutter speed yang kita masukkan.</p>
<p>Mode S atau Tv ini sangat berguna untuk mengatur efek pergerakan. Apakah teman-teman ingin menangkap ‘gerak’ dari sebuah benda, atau justru ingin melakukan freezing; dengan mengatur lamanya sensor digital terpapar cahaya (shutter speed), kita bisa mendapatkan efek-efek :</p>
<ul>
<li>Dengan mengatur shutter speed yang amat cepat &#8211; melakukan freezing</li>
<li>Dengan mengatur shutter speed yang amat lambat - merekam efek pergerakan atau dramatisasi fotografis tertentu. Untuk membaca lebih lanjut tentang Mode S ini, <span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="color:#993300;">klik di sini.</span></a></span></li>
</ul>
</blockquote>
<div><strong>Mode A &#8211; APERTURE PRIORITY</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<blockquote>
<div>Pada mode ini, kita mengatur setting ISO Speed, Aperture, danExposure value– Komputer dalam kamera akan menentukan nilaiShutter speed berdasarkan kombinasi nilai eV dan Aperture yang kita masukkan.</div>
<div>Gunakan mode A ini jika memotret suasana dimana gambar hasilnya memiliki kepentingan dengan lebar-sempitnya area fokus (depth of fieldatau DoF).</div>
<div>Namun di sisi lain, mode A ini juga adalah mode yang paling aman untuk mode sehari-hari. Kamera saya sendiri selalu berada pada mode A ini, kecuali saya sedang menginginkan efek yang berhubungan dengan pergerakan (Tv) atau sedang memotret macro (full-manual). Mengapa? Karena nilai Aperture mempengaruhi lebar daerah yang fokus (lebar DoF), dan lebar DoF adalah hal yang saya ingin pertahankan selama memotret (misalkan) dokumentasi sebuah acara. Andaikata saya menggunakan mode S, dan kemudian tanpa sadar pencahayaan ruangan berkurang, tentu komputer kamera akan memperlebar bukaan Aperture…. lebar daerah fokus pun berkurang… dan jangan-jangan saat memotret rombongan besar, baris paling depan tidak masuk ke dalam area fokus… kan bisa gaswat tuh!!! Untuk membaca lebih jauh mengenai Mode A ini, <span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-a-av-aperture-priority/"><span style="color:#993300;">klik di sini.</span></a></span></div>
</blockquote>
<div><strong>Mode M &#8211; FULL MANUAL</strong></div>
<blockquote>
<div><strong> </strong>Pada mode ini, kita mengatur SEMUA SETTING yang ada: Aperture,Shutter speed, ISO Speed. Dan tak ada yang namanya parameterExposure value (eV) pada mode ini. Well, parameternya tetap ada, tapi tidak bisa kita atur. Parameter ini akan dikalkulasi komputer setelah kita memasukkan nilai Aperture dan Shutter speedberdasarkan pencahayaan yang dibaca oleh komputer. Pada mode M ini, parameter eV berguna sebagai referensi cepat akan jumlah cahaya yang jatuh ke sensor jika memotret menggunakan setting yang kita atur. Untuk membaca lebih jauh mengenai Mode M ini, <a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-m-full-manual/"><span style="color:#993300;">klik di sini.</span></a></div>
</blockquote>
<div>
<h5 style="font-size:.83em;">
<li style="text-align:right;"><span style="color:#ffcc99;">page1. Intro-duksion</span><span style="color:#ffcc99;"> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-p-program/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page2.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode P &#8211; Program</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="color:#993300;">page3</span></a></span></span><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-s-tv-shutter-speed-priority/"><span style="color:#993300;">.</span></a></span></span><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode S &#8211; Shutter Speed Priority </span>|</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-a-av-aperture-priority/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page4.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode A &#8211; Aperture Priority</span> |</span></li>
<li style="text-align:right;"><a href="http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/memotret-dengan-mode-m-full-manual/"><span style="font-weight:normal;"><span style="color:#993300;">page5.</span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <span style="color:#808080;">Memotret dengan Mode M &#8211; Full Manual</span> |</span></li>
</h5>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;">All text and images © Putra Munchana 2009</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;"><a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/"><img style="border:0 initial initial;" src="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" alt="Creative Commons License" /></a><br />
All Images &amp; Words @ bligungtre.wordpress.com by<a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="cc:attributionURL" href="http://bligungtre.wordpress.com/bligungtre.wordpress.com">Putra Munchana Anak Agung</a> is licensed under a <a style="color:#fd5a1e;text-decoration:none;" rel="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/">Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License</a>.</span></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bligungtre.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bligungtre.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bligungtre.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bligungtre.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bligungtre.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bligungtre.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bligungtre.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bligungtre.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bligungtre.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bligungtre.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bligungtre.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bligungtre.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bligungtre.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bligungtre.wordpress.com/691/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bligungtre.wordpress.com&amp;blog=8484764&amp;post=691&amp;subd=bligungtre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bligungtre.wordpress.com/2009/10/24/09pasm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/71cb7004d0540debb275d86f6db3f596?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">bligungtre</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/10/kop_092.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kop_09</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/basic-tech-03-03.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Automatisasi Kamera Digital</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bligungtre.files.wordpress.com/2009/08/basic-tech-02.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"> SEtting kamera digital yang HARUS diingat!!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://creativecommons.org/images/public/somerights20.png" medium="image">
			<media:title type="html">Creative Commons License</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
