ALL AROUND : JAKARTA KOTA TUA

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan tugas dari kantor untuk pergi survey di Kawasan Jakarta Kota. Hmm..Senang sekali rasanya dapat kesempatan jalan-jalan..dibayarin kantor pula! Hehehe…

Apalagi kali ini saya ditugaskan bersama kekasih tercinta ……. sekantor siih!! :’D

Pelataran Museum Fatahillah

Bagi saya ini adalah pertama kalinya saya mendapat kesempatan bisa menyusuri Kawasan Jakarta Kota. Tidak sekedar lewat saja loh, kami benar-benar menyusuri Kawasan Jakarta Kota, mengamati  bahkan memasuki satu persatu bangunan tua yang ada di sana! Kalau saja bukan karena tugas kantor hal ini sungguh merupakan kesempatan yang gak bisa saya dapatkan. Kami berkeliling Kawasan Jakarta Kota dengan ditemani seorang Bapak Pemandu (Bapak Rohadi) yang merupakan warga asli Kota Tua dan telah lebih dari 50 tahun tinggal di sana. Bisa dibilang, Bapak Rohadi ini adalah kuncen nya area Kota Tua Jakarta. Bapak ini tahu banyak tentang bangunan-bangunan di sana bahkan kenal dengan hampir kebanyakan pemiliknya. Bapak ini juga memegang beberapa kunci bangunan tua, makanya kami bisa masuk dan mengamati interior bangunan tua di sana yang ternyata tidak kalah bagusnya dengan eksteriornya.

Bicara tentang Jakarta Kota, pasti selalu berkaitan dengan sejarah, cerita awal mula keberadaan kawasan ini yang sangaaaat panjang. Menurut salah satu sumber yang saya baca, sejarah Jakarta Kota diperkirakan dimulai sekitar tahun 3500 SM, diawali dengan terbentuknya kampung-kampung  di sepanjang Sungai Ciliwung. Tidak banyak yang saya ketahui mengenai kampung-kampung tua ini, namun katanya kampung-kampung tua ini masih bertahan sampai sekarang meskipun telah mengalami perubahan karena termakan waktu.

Perebutan kekuasaan juga turut mengambil bagian dalam pembentukan Kawasan Jakarta Kota. Mulai dari pendudukan Portugis hingga kemudian direbut oleh Fatahillah pada tahun 1527. Kedatangan Belanda tahun 1596 untuk berdagang, yang kemudian mendapatkan perlawanan dari Fatahillah dan Inggris pada tahun 1618. Tidak dapat dipungkiri kalau bentuk Kawasan Jakarta Kota saat ini sebagian besar merupakan campur tangan Belanda.

Pada tahun 1619 dimulailah pembinaan Kota Batavia (nama Kawasan Jakarta Kota saat itu) menjadi pusat kekuasaan Belanda. Batavia merupakan kota yang dibangun, dipikirkan, dan dilaksanakan sesuai dengan kebiasaan Belanda, dengan jalan-jalan lurus dan parit-parit. Pada zaman itu, Belanda juga membuat jalur perlintasan trem di wilayah Batavia, sebuah moda transportasi massal yang lekat dengan kehidupan modern kota-kota di Eropa saat ini, dimulai dari trem kuda pada tahun 1869 yang kemudian digantikan dengan trem bermesin uap pada tahun 1881.

Trem menjulur di tengah kota dengan stasiun di pintu gerbang Amsterdam, sekitar 100 meter dari Pasar Ikan, dan Tanah Abang. Rutenya ke arah selatan menuju Stadhuisplein (Taman Fatahillah) – Nieuwpoort Straat (Jalan Pintu Besar Utara dan Selatan) – Molenvliet West (Jalan Gajah Mada) – Harmoni – Pasar Tanah Abang.

Dari terminal di Pasar Tanah Abang perjalanan trem berlanjut menyusuri Kampung Lima Weg (Sarinah) – Tamarin Delaan (Jalan Wahid Hasyim) – Kebon Sirih – Kampung Baru (Jalan Cut Mutia) – Kali Pasir – Kramat – Pasar Baru – Wilhelmina Park (Istiqlal) – Rijswijk (Jalan Veteran) – Harmoni dan kembali ke Pasar Ikan.

Akan tetapi pada tahun 1960 trem tidak lagi digunakan, karena Presiden Soekarno menganggap trem sebagai biang keladi dari kemacetan yang terjadi di Jakarta.

Sisa-sisa kejayaan Belanda pada waktu itu masih tertinggal di Kawasan Kota Tua, termasuk rel-rel bekas jalur perlintasan trem, meskipun  tidak dapat kita lihat lagi karena terkubur di bawah jalan-jalan aspal yang ada saat ini. Saat kita berjalan-jalan ke halaman museum Fatahillah, kita bahkan mungkin tak akan sadar jika sekitar 2 meter di bawah kaki kita terdapat bekas rel bagi trem tersebut.

The Shining OldSelain itu ada pula bangunan-bangunan kolonial yang saat ini masih dapat kita nikmati keindahannya di daerah Kota Tua Jakarta.

Pada kesempatan survey kali ini ada sekitar 30 bangunan yang harus kami kunjungi satu persatu. Beberapa di antaranya sudah dibuka untuk umum. Meskipun usia bangunan-bangunan ini sudah tua, bahkan ada yang sudah berusia ratusan tahun, pesonanya belum juga pudar. Kawasan Kota Tua sampai saat ini masih ramai dikunjungi para wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Banyak sekali aktifitas yang bisa kita lakukan di kawasan ini, mulai dari mengunjungi museum, berfoto dengan latar belakang bangunan historik yang anggun, sampai bersepeda santai bersama kerabat atau kekasih. Tak lupa juga memakai topi ‘kumpeni style’ yang tersedia di penyewaan sepeda.

Setidaknya ada sekitar 5 museum yang saya ketahui berada di Kawasan ini. Letaknya cukup berdekatan satu sama lain dan masih berada dalam radius berjalan kaki. Bagi para penggemar fotografi, kawasan Kota Tua Jakarta ini juga menjadi salah satu objek yang menarik. Tidak jarang kami juga menjumpai sesi-sesi pemotretan pre-wedding, model, dan bahkan syuting video klip atau film di sudut-sudut bangunan ataupun koridor Kawasan Jakarta Kota ini. Oya, salah satu yang kami sempat lihat adalah syuting video klip soundtrack atau sesi pemotretan film KING yang disutradarai Ari Sihasale. Syutingnya bertempat di salah satu bangunan tua di kawasan ini. Lucu juga rasanya mengintip proses pembuatan video klip dan sesi pemotretannya, apalagi melihat sosok Mas Ari Sihasale yang ternyata lebih ganteng kalo kita liat aslinya daripada cuman liat di tipi doang.. Langsung saja saat itu saya curi-curi untuk memfoto Mas Ari, lumayan buat koleksi dan oleh-oleh buat atasan saya..tapi gagal melulu..nyesel juga sih kenapa waktu itu gak minta foto bareng sekalian aja ya..hehehe…

Syuting KING!…Syuting video klip salah satu soundtrack film KING…

Hal yang amat disayangkan adalah kondisi beberapa bangunan tua yang kerapkali digunakan untuk lokasi syuting. Mulai dari properti syuting yang dibiarkan tergeletak di sana sini, hingga tembok yang dicat untuk kepentingan syuting. Semua hal tersebut merusak ‘keaslian’ bangunan tua itu yang menurut saya seharusnya dipreservasi dengan baik sebagai saksi bisu sejarah peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar Jakarta Kota.

Well, eniwei.. Menyenangkan sekali rasanya bisa berkeliling menikmati peninggalan bersejarah di Kota Tua Jakarta. Tidak hanya menikmati keindahan arsitektur tempo dulu, kami juga jadi banyak tahu tentang cerita-cerita sejarah tentang bangunan-bangunan dan kawasan Kota Tua ini, termasuk juga hal-hal mistik yang ada di Kawasan ini. Bagi Bapak Pemandu kami dan beberapa penjaga gedung di Kawasan ini, hal mistik sudah menjadi sesuatu yang biasa. Salah satu hal mistik yang kami sempat dengar adalah cerita tentang sebuah patung misterius. Sang penjaga gedung mendiskripsikannya sebagai patung seorang wanita dari mitologi Yunani (?…… dia tidak tahu pasti sih sosok siapa sebetulnya patung itu).Meskipun suatu kali orang-orang memindahkannya ke tempat lain, patung tersebut secara misterius kembali lagi ke tempat asalnya. Saya sendiri kurang jelas tahu tentang lokasi patung ini di mana (di sebuah bunker kalau tidak salah), dan bagaimana rupanya, namun ceritanya kurang lebih seperti itu.

Menurut Bapak Pemandu juga, beberapa bangunan di Kawasan Jakarta Kota khususnya di wilayah sekitar Taman Fatahilah memiliki bungker-bungker (ruang bawah tanah) yang dihubungkan oleh suatu jalur bawah tanah, yang salah satu pintu keluarnya dapat kita lihat di penjara bawah tanah museum Fatahilah. Kami sempat ditawari untuk mencoba masuk ke dalam bungker salah satu bangunan namun kami mengurungkan niat kami. Selain karena suasananya yang gelap dan lembab, sebelumnya Bapak Pemandu sudah menceritakan cerita spooky tentang bungker tersebut, dan nampaknya beliau sendiri enggan untuk ikut masuk.

Konon katanya sih, di salah satu bungker bangunan di sana,  terdapat sebuah peti besi tua yang sampai saat ini tidak diketahui apa isiya. 10 orang laki-laki dewasa sudah ditugaskan untuk mencoba membuka atau setidaknya mengangkat peti itu bersama-sama, namun hasilnya nihil. Sampai sekarang, apa yang akan ‘keluar’ dari peti itu ketika di buka masih merupakan misteri…

Ball, Couple, & BuildingYap..mungkin itu dulu yang bisa saya bagikan kepada teman-teman. Kalau teman-teman masih penasaran tentang bangunan-bangunan dan sejarah bangunan tersebut, boleh lho lanjut baca.. klik tautan di bawah ini..

Museum Sejarah Jakarta | Museum Wayang | Dasaad Musin | Bangunan milik Ella Ubaidi | Museum Bank (Bank Mandiri dan Bank Indonesia)

© Cithata 2009

4 Responses to “ALL AROUND : JAKARTA KOTA TUA”

  1. Slamat Sore,

    Saya ada rencana keliling kota tua secara intensif.
    Bisakah saya mendapatkan informasi bagaimana menghubungi Bapak Rohadi seperti yg Anda tuliskan diatas ?

    Saya membutuhkan informasi tersebut secepat mungkin sesuai dengan deadline yg diberikan pada saya.

    Saya ucapkan Terima kasih yang sebesar-besarnya atas seluruh bantuan yang diberikan.

    Terima kasih.

    Christ

    • Selamat Siang Bapak Christ,
      Maaf baru memberikan respon siang ini.
      Untuk menghubungi Bapak Rohadi sebaiknya melalui UPT Kota Tua yang ada di gedung Museum Fatahillah. Kami pun saat itu mendapat ijin dari UPT Kota Tua Jakarta sendiri yang kemudian menugaskan Pak Rohadi untuk mengantar kami mensurvey sebagian besar bangunan tua di kawasan Jakarta Kota Tua. Sepanjang pengalaman kami, UPT Kota Tua sangat kooperatif kok pada pihak-pihak yang ingin tahu lebih mengenai Kota Tua jakarta, jadi jangan ragu2 menghubungi mereka. Nomor Telpon kantornya 021-6916275. Monggo…

      Bapak Rohadi sendiri sebetulnya selalu wara wiri di seputaran plaza besar Museum Fatahillah. Tanya saja pada pedagang di seputaran bangunan tua di situ, hampir semuanya kenal Pak Rohadi kok…

      Sekian. Semoga Membantu.

  2. Rahmadiansyah Says:

    Pak saya Boleh tau gk sisa jaur bekas Trem tersebut ada di sebelah mana taman Fatahillah pak soalnya saya pengen tau pak. ini sangat di sayangkan ya sisa peninggalan Belanda Trem malah di gusur jalurnya di pendem sama Tanah kan bisa di jadikan transportasi murah nantinya

    • bligungtre Says:

      Wah, kalau jalur lengkapnya sih saya tidak begitu tau. Pak Rohadi pun ketika kami tanya juga tidak begitu tahu dimana persisnya jalur trem tersebut… beliau hanya menyebutkan bahwa salah satu segmen jalur rel trem tersebut melalui pintu masuk pejalan kaki yang langsung lurus menghadap fasade depan museum Fatahillah.

      Betul sekali Pak, andaisaja disisakan beberapa segmen setidaknya sekitar kawasan kota tua saja (dengan beberapa penambahan dan penyempurnaan tentunya), mungkin bisa menjadi wahana wisata yang cukup menarik untuk mengelilingi kota tua Jakarta ya Pak. Tapi memang setahu saya, waktu itu Presiden Soekarno menganggap trem adalah biang keladi kemacetan yang terjadi di Jakarta, oleh karena itu transportasi trem tidak digunakan lagi dan lama kelamaan jalur relnya pun ditimbun untuk dijadikan jalur pejalan kaki, plaza, atau jalan raya.

      Demikian semoga membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: