MUSEUM WAYANG

Menurut sebuah artikel majalah, Gedung Museum ini dulunya adalah sebuah gereja bernama The Church of The Cross of Batavia yang dibangun dalam jangka waktu yang cukup lama, yaitu dari tahun 1632-1640.

Seorang teman saya juga pernah menceritakan tentang Museum Wayang ini, yang paling saya ingat dari ceritanya adalah keberadaan mayat yang dikubur di dinding museum ini, dan suasana di dalamnya yang spooky..hiii… Saya jadi penasaran, seperti apa sih bagian dalam museum wayang ini?

Front Facade M WayangApakah benar se-spooky itu? Kalo diliat dari tampak luarnya saja sih bangunan ini cantik sekali! Berfoto di depannya seakan kita bukan berfoto di Jakarta, tapi seperti ada di Eropa sana…

Maka, masuklah kami bertiga ke dalam museum ini. Di bagian depan ada sebuah meja tiket, cukup membayar per orang Rp. 2000,- saja maka kita bisa menikmati museum wayang dan isinya , di sana juga ada sebuah buku tamu yang berisi nama dan asal para pengunjung. Ruangan pertama di dekat meja tiket  memamerkan bahan-bahan dasar pembuatan wayang kulit lengkap dengan keterangan cara membuatnya, ruangan berikutnya memamerkan koleksi wayang kulit (kalau tidak salah Wayang Kulit Surakarta) dengan bermacam tokohnya. Ada tokoh Mahabharata, Ramayana, dan Punakawan lengkap dengan cerita singkat di bawahnya. Saya suka sekali dengan koleksi wayang kulit yang ada di ruangan ini! Benar-benar dibuat detail dengan keriwil-keriwil dan warna yang indah, dan tentunya bahan kulit dan tanduk kerbau pilihan. Meskipun ruangan ini agak gelap tetap tidak mengurangi keindahan wayang yang dipamerkan. Sayang sekali tidak diijinkan mengambil gambar (foto) di dalam museum wayang ini, jadi tidak bisa saya tunjukan pada teman-teman..

Ruang berikutnya adalah ruang koleksi Wayang Golek, wayang yang terbuat dari kayu dan berasal dari daerah Sunda. Ada pula lukisan-lukisan bercerita yang dilukis di atas selembar kain. Kemudian, dari ruangan ini kami langsung memasuki sebuah inner court. Inner courtnya indaaah sekali. Tidak saya sangka ternyata di tempat inilah terdapat kuburan dinding. Di dinding-dindingnya yang terbuat dari batu terpahat tulisan nama-nama orang yang dikuburkan di sana. Semuanya adalah orang-orang Belanda, ada satu nama yang cukup familiar: Jan Pieter Zoon Coen – Gubernur Jendral Belanda yang namanya sering muncul di pelajaran sejarah jaman SD-SMP-SMA. Kuburan dinding ini sungguh jauh dari kesan spooky yang saya kira sebelumnya. Batu-batunya nampaknya bukan batu lokal biasa, menurut bapak penjaganya yang kebetulan lagi nongkrong di sana saat itu batu-batu itu adalah batu import, saya lupa namanya batu apa, hehe tapi materialnya saya suka sekali.. kesannya hangat dan kontemporer.

Jan Pieterzoen Coen

Dari inner court kami memasuki ruang-ruang selanjutnya yang tidak kalah menarik, ada ruang gamelan, ruang koleksi wayang yang lebih modern (Tokohnya pun sudah modern loh! Ada Bapak Soekarno-Hatta, para pejuang RI, dan Kompeni Belanda), ruang koleksi Wayang dari berbagai penjuru Indonesia (dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dll), ruang koleksi boneka dari berbagai penjuru dunia (seperti dari Thailand, Belanda, Perancis, Cina, dll), dan yang terakhir adalah ruang koleksi wayang kontemporer dari berbagai daerah serta ruang pamer topeng. Ruangan yang terakhir ini nampaknya baru saja selesai direnovasi, layout interiornya lebih modern daripada ruang-ruang sebelumnya, demikian juga dengan pencahayaannya yang lebih baik daripada ruang-ruang sebelumnya.

Tiba di akhir sekuens museum wayang ini, kami jadi begitu kagum kepada wayang-wayang Indonesia. Dibandingkan kesenian boneka dari negara lain, wayang Indonesia benar-benar terlihat jauh lebih indah! Mungkin dari segi teknologi kita belum semaju Jerman atau Amerika Serikat, namun dalam bidang seni tradisional, Indonesia amat sangat maju! Corak-corak khas, ukiran penuh keindahan, dan visualisasi karakter yang begitu berkesan, begitu menakjubkan! Seniman-seniman Indonesia pada waktu lampau benar-benar telah melaksanakan ‘tugas’nya dengan amat sangat luar biasa!!!

Sebelum pintu keluar Museum Wayang ini ada juga stand souvenir, sayang sekali kami tidak sempat melihat-lihat stand ini karena masih banyak bangunan lainnya yang harus kami amati… Mungkin lain kali kami ke sana kami akan menyempatkan melihat-lihat barang-barang di stand souvenir ini yang sepertinya lucu juga buat koleksi atau oleh-oleh :’)

© Cithata 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: